Roma, Kota yang Berdiri di Atas Tanah Penuh Sejarah

Ilustrasi milik BSM
Roma punya kebiasaan yang agak menyebalkan bagi orang yang ingin membangun kota baru: setiap kali menggali tanah, mereka bisa menemukan kota lama.

Mau membuat jalur metro? Periksa dulu apa yang ada di bawahnya. Mau membangun gedung? Bisa jadi fondasi bangunan yang hendak dibuat harus berhadapan dengan tembok berusia dua ribu tahun. Mau memperlebar jalan? Tunggulah sebentar, mungkin arkeolog datang membawa kuas kecil. Penggalian Metro C bahkan menghasilkan penemuan struktur Romawi dan abad pertengahan yang membuat pembangunan stasiun harus berjalan sambil menyelidiki lapisan sejarah di bawah kota.

Roma modern punya masalah yang tidak dimiliki kebanyakan kota: tanahnya terlalu penuh sejarah.

Orang bisa berjalan ke tempat kerja melewati bangunan apartemen abad ke-19, membelok ke sebuah jalan, melihat gereja Barok, menyeberang dekat reruntuhan forum Romawi, membeli kopi, kemudian naik metro di stasiun yang dibangun sambil menunggu arkeolog selesai menggali. Semua itu terjadi dalam beberapa kilometer.

Kota modern biasanya berusaha menyembunyikan usia bangunannya. Roma justru membiarkan usianya mencolok.

Di Largo di Torre Argentina, misalnya, orang bisa melihat empat kuil Republik Romawi yang ditemukan secara tidak sengaja ketika sebuah kawasan tua dibongkar pada 1926–1929. Situs itu juga terkenal karena berada di lokasi yang secara tradisional diidentifikasi dengan tempat Julius Caesar dibunuh pada Ides of March 44 SM. Di atas reruntuhan tersebut, kehidupan kota terus berjalan. Bus lewat. Mobil lewat. Orang berjalan. Kucing-kucing yang terkenal di kawasan itu tidur di antara batu-batu kuno. 

Roma mempunyai kemampuan aneh untuk membuat dua ribu tahun sejarah terasa seperti gangguan kecil dalam perjalanan menuju makan siang.

UNESCO menyebut pusat bersejarah Roma sebagai kawasan yang “complex and stratified”, dengan hampir tiga milenium sejarah yang bertumpuk. Kota Romawi kemudian menjadi kota Kristen; bangunan lama dipakai ulang, ruang lama diubah, bahan bangunan diambil dari struktur sebelumnya. Sejak Renaissance, para paus kembali mengubah kota secara besar-besaran, disusul perkembangan Barok dan transformasi berikutnya. 

Jadi ketika orang mengatakan Roma dibangun di atas reruntuhan, ungkapan itu sebenarnya terlalu sederhana.

Roma dibangun di atas Roma. Roma juga dibangun di atas kota Kristen yang tumbuh di atas Roma. Roma modern berdiri di atas semuanya.

Masalahnya, lapisan-lapisan itu tidak tersusun rapi seperti kue. Mereka saling menusuk, saling menimpa, kadang hilang, kadang muncul lagi. Sebuah gereja bisa berdiri di atas rumah Romawi. Sebuah jalan modern bisa memotong struktur kuno. Sebuah ruang bawah tanah bisa menyimpan tempat ibadah yang usianya jauh lebih tua daripada bangunan yang berada di atasnya.

Basilica di San Clemente adalah salah satu contoh yang membuat orang sadar betapa dalamnya kota itu. Di bawah basilika sekarang terdapat bangunan dari periode sebelumnya, termasuk sebuah mithraeum Romawi dari sekitar abad ke-2 atau ke-3 Masehi. Turun lebih jauh berarti turun melalui sejarah agama dan arsitektur yang berbeda-beda, sampai ruang yang dulu digunakan oleh para pengikut Mithras muncul di bawah gereja Kristen. 

Seseorang bisa menghadiri misa di atas, dan beberapa menit kemudian berdiri di ruangan tempat orang Romawi kuno menjalankan kultus Mithras.

Roma tidak menghapus masa lalu. Ia menggunakannya, menutupinya, menggantinya, lalu suatu hari membuka kembali sebagian kecilnya.

Pantheon mungkin contoh yang lebih menyenangkan. Bangunan yang sekarang terlihat berasal dari pembangunan kembali pada masa Kaisar Hadrian sekitar 118–125 Masehi, meskipun tempat tersebut sudah memiliki bangunan sebelumnya yang didirikan atas perintah Marcus Agrippa pada 27 SM. Pada 609 Masehi, bangunan itu dikonsekrasi sebagai gereja Santa Maria ad Martyres, sehingga selamat dari nasib banyak bangunan kuno yang mengalami pembongkaran atau pengambilan material. 

Di dalamnya, orang sekarang berdiri di bawah kubah raksasa, melihat lingkaran cahaya dari oculus di atas, mendengar suara langkah kaki, dan mungkin melihat turis mengangkat kamera.

Sebuah bangunan yang pernah menjadi kuil Romawi kemudian menjadi gereja. Seseorang yang datang untuk melihat arsitektur kuno mungkin harus melewati altar Kristen. 

Masa lalu di Roma tidak selalu bertahan karena manusia menghormatinya. Kadang ia bertahan karena manusia menemukan kegunaan baru untuknya. Itu membuat sejarah Roma terasa lebih kasar daripada cerita wisata biasa.

Colosseum pun tidak berdiri sebagai benda purba yang selalu diperlakukan dengan hormat. Amphitheater itu dibangun pada abad pertama Masehi di atas kawasan yang sebelumnya menjadi bagian dari kompleks Domus Aurea milik Nero. Pembangunannya dimulai sekitar 70 M dan selesai pada 80 M di bawah Titus. 

Bangunan yang sekarang dianggap lambang Roma pernah menjadi tempat pertunjukan massal, termasuk perburuan dan pertandingan gladiator. Setelah fungsi aslinya berakhir, sejarah bangunan berubah berkali-kali.

Reruntuhan tidak selalu langsung menjadi “warisan budaya”. Sering kali reruntuhan hanya menjadi bangunan lama yang kebetulan masih berdiri. 

Orang mengambil batu. Bangunan berubah fungsi. Kawasan ditinggalkan. Struktur lain tumbuh di sekitarnya. Nilai sebuah bangunan bisa berubah total setelah masyarakat yang membangunnya lenyap.

Roma penuh dengan benda yang mengalami nasib semacam itu.

Forum Romawi bahkan pernah menjadi kawasan yang jauh lebih rendah dan tertimbun, sementara kehidupan kota berpindah ke tempat lain. Kawasan tersebut baru kembali dipahami sebagai pusat kehidupan politik, agama, dan perdagangan Romawi, melalui penggalian dan penelitian arkeologis modern. Sekarang orang membayar tiket untuk berjalan di antara kolom-kolom yang dulu menjadi bagian dari pusat pemerintahan sebuah kekaisaran.

Ada sesuatu yang lucu di sana. Dulu orang datang ke Forum untuk mengurus negara. Sekarang orang datang untuk mencari sudut foto yang tidak terlalu ramai.

Roma modern tetap membutuhkan fungsi-fungsi biasa. Jalan harus dibangun. Kereta harus berjalan. Pipa harus diperbaiki. Kabel harus dipasang. Gedung harus direnovasi. Masalahnya, setiap pekerjaan konstruksi di pusat kota mempunyai kemungkinan berubah menjadi ekspedisi arkeologi.

Pengalaman Metro C memperlihatkan persoalan itu dengan sangat jelas. Pembangunan stasiun Colosseo–Fori Imperiali melibatkan penggalian hingga sekitar 32 meter, dan menemukan lapisan sejarah yang mencakup ribuan tahun. Stasiun tersebut akhirnya dirancang sebagai semacam stasiun-museum, sehingga orang yang turun menuju kereta bisa melihat sebagian temuan arkeologis yang ditemukan selama pembangunan. 

Itu sangat Roma: bahkan transportasi umum pun harus bernegosiasi dengan masa lalu.

Metro C bukan satu-satunya contoh. Di San Giovanni, penggalian stasiun menemukan kompleks pertanian dari masa Kekaisaran Romawi, serta sebuah reservoir besar yang diperkirakan mampu menampung lebih dari empat juta liter air. Sebagian temuan kemudian diintegrasikan ke ruang publik stasiun. 

Bayangkan teknisi yang ingin membuat stasiun metro dan mendapati dirinya sedang berurusan dengan sistem air berusia hampir dua ribu tahun.

Roma memaksa pekerjaan modern melakukan percakapan dengan orang-orang yang sudah mati.

Kota itu juga punya kebiasaan memakai masa lalunya untuk menciptakan sesuatu yang baru. Piazza Navona menempati bentuk stadion kuno Domitian. Castel Sant’Angelo berasal dari mausoleum Kaisar Hadrian yang kemudian berubah menjadi benteng dan bagian dari pertahanan kepausan. Jalan, gereja, istana, air mancur, museum, apartemen, kantor pemerintahan, dan toko-toko, tumbuh di sekitar atau di atas berbagai periode sejarah.

Tidak ada garis tegas yang mengatakan: “Ini masa lalu, mulai dari sini masa kini.”

Semuanya bercampur.

Karena itulah tinggal di Roma mungkin terasa berbeda dari sekadar tinggal di kota bersejarah. Di kota lain, sejarah sering mempunyai alamat. Pergi ke museum untuk melihat sejarah. Pergi ke kawasan tua untuk melihat bangunan lama. Setelah itu kembali ke kehidupan modern.

Roma membuat pemisahan tersebut tidak praktis. Seseorang keluar membeli roti dan melewati tembok kuno. Naik bus dan melihat kolom Romawi. Berjalan menuju kantor dan melewati gereja abad pertengahan. Menunggu metro di bawah tanah sambil melihat benda yang dikubur dua ribu tahun lalu. Malam hari, duduk di trattoria dan membicarakan pekerjaan besok pagi.

Kota terus bergerak, sementara lapisan bawahnya tetap diam.

Mungkin bagian paling aneh dari Roma bukan bahwa masa lalu masih terlihat. Kota-kota lain juga punya reruntuhan. Yang mengganggu justru kenyataan bahwa masa lalu Roma masih ikut menentukan apa yang boleh dilakukan kota hari ini. Jalan baru harus menyesuaikan struktur lama. Bangunan baru harus mempertimbangkan lanskap bersejarah. Penggalian harus berhenti ketika sesuatu ditemukan. Konservasi berhadapan dengan kebutuhan penduduk.

UNESCO bahkan mencatat tekanan pembangunan, kerusakan bangunan bersejarah, tekanan pengunjung dan pariwisata, serta perubahan sosial-ekonomi sebagai persoalan yang terus dihadapi pusat sejarah Roma. 

Jadi kota itu tidak hidup di museum. Museumlah yang sesekali harus menyesuaikan diri dengan kota.

Pagi hari, seorang pekerja membuka toko. Sebuah bus mengerem di jalan. Turis berhenti di trotoar. Skuter menyelip. Seorang arkeolog masuk ke ruang bawah tanah dengan senter kecil. Di bawah lapisan aspal dan beton, batu-batu lama masih menunggu.

Besok mungkin mereka menggali lagi.

Biasanya Roma memang begitu. Masalahnya hanya satu: jangan pernah bertanya apa yang ada di bawah tanah sebelum pekerjaan dimulai.


Related

Geografi 28103194691620620

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link hidup ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item