Buya Syafii Maarif, Tokoh Besar dengan Kehidupan Sederhana
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/buya-syafii-maarif-tokoh-besar-dengan.html
![]() |
| Ilustrasi/maarifinstitute.org |
Banyak tokoh besar tampak gagah ketika berdiri di atas panggung. Mikrofon, lampu sorot, barisan kursi tamu, pengawal, kamera televisi—semuanya bekerja sama membangun wibawa. Ukuran kebesaran jadi mudah dikenali karena seluruh suasana memang dirancang untuk membuat seseorang terlihat penting. Kejutan justru muncul ketika semua atribut itu hilang.
Seorang lelaki tua mengayuh sepeda pelan di jalan kampung Sleman. Keringat membasahi punggung bajunya. Tidak ada iring-iringan mobil. Tidak ada ajudan yang membuka jalan. Warga yang mengenalnya hanya mengangguk sambil tersenyum. Lelaki itu adalah Ahmad Syafii Maarif, yang lebih akrab dipanggil Buya Syafii.
Gambar lain pernah beredar lebih luas. Buya Syafii duduk mengantre di rumah sakit seperti pasien lain. Nomor antrean berada di tangannya. Banyak orang merasa adegan itu menghangatkan hati. Muhammadiyah memiliki puluhan rumah sakit yang tersebar di berbagai kota Indonesia. Selama bertahun-tahun organisasi itu membangun jaringan pelayanan kesehatan yang menjadi salah satu kebanggaannya. Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentu memiliki akses yang jauh lebih mudah dibanding orang kebanyakan. Satu telepon saja mungkin cukup. Kenyataannya berbeda. Ia memilih duduk menunggu giliran, bersama orang-orang lain yang mengantre.
Pemandangan seperti itu pelan-pelan menjadi langka di Indonesia. Kekuasaan sering menciptakan gravitasi yang aneh. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin banyak lapisan yang memisahkannya dari kehidupan biasa. Pintu khusus, ruang tunggu khusus, jalur khusus, mobil khusus, makanan khusus. Lama-kelamaan seseorang bisa lupa bagaimana rasanya menjadi warga biasa. Keistimewaan berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi hak yang tidak lagi dipertanyakan.
Buya Syafii tampaknya melawan kebiasaan itu tanpa pernah mengumumkannya sebagai gerakan moral.
Riwayat hidupnya sendiri jauh dari kisah orang yang lahir dalam kemewahan. Ia lahir di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada 1935. Ayahnya seorang guru agama. Ibunya meninggal ketika ia masih kecil. Masa mudanya diisi dengan belajar di lingkungan Muhammadiyah sebelum melanjutkan pendidikan hingga ke Universitas Chicago, Amerika Serikat. Di sana ia belajar di bawah bimbingan Fazlur Rahman, salah seorang pemikir Islam paling berpengaruh pada abad ke-20.
Banyak orang yang pulang dari universitas bergengsi dunia membawa kebanggaan intelektual yang sulit disembunyikan. Buya Syafii justru pulang membawa sesuatu yang lebih tenang. Ia tidak berbicara dengan bahasa yang rumit hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya pintar.
Tulisan-tulisannya memperlihatkan keluasan bacaan. Nama Ibn Khaldun, Mohammad Iqbal, Nurcholish Madjid, Amartya Sen, hingga Alexis de Tocqueville, bisa muncul dalam satu napas. Anehnya, ketika berbicara langsung, ia sering memilih kalimat sederhana. Orang tidak merasa sedang diuji pengetahuannya.
Mungkin karena itu banyak orang yang berbeda pandangan politik tetap menghormatinya.
Ketika ruang publik Indonesia dipenuhi teriakan identitas agama, Buya Syafii sering berdiri di posisi yang tidak nyaman. Ia mengkritik kelompok Islam yang gemar memonopoli kebenaran. Ia juga mengkritik pemerintah ketika melihat penyimpangan kekuasaan. Kritiknya tidak memilih sasaran berdasarkan kedekatan politik. Sikap seperti itu membuatnya tidak pernah benar-benar menjadi milik satu kubu.
Yogyakarta mengenalnya bukan hanya sebagai tokoh nasional, tetapi sebagai tetangga. Orang-orang pernah bertemu dengannya di warung makan sederhana, di toko buku, di jalan kecil sekitar kawasan Pogung dan Kaliurang. Sepeda yang dikendarainya bukan simbol kesederhanaan yang dipentaskan. Orang-orang yang tinggal di sekitar sana sudah terbiasa melihatnya jauh sebelum foto-foto itu ramai beredar di internet.
Kesederhanaan sering diperlakukan sebagai strategi pencitraan. Mobil mewah diparkir agak jauh sebelum acara. Kamera dipanggil. Seorang pejabat turun sambil mengenakan sandal murah. Foto diunggah ke media sosial. Publik bertepuk tangan. Setelah acara selesai, mobil mewah datang lagi.
Buya Syafii berasal dari generasi yang bahkan tidak terlalu memikirkan apakah tindakannya akan menjadi konten.
Pernah seorang jurnalis bertanya, mengapa ia hidup begitu sederhana. Jawaban-jawabannya sering tidak dramatis. Ia tidak menyusun kalimat yang dirancang menjadi kutipan viral. Sikap hidupnya terasa lebih dekat dengan kebiasaan daripada pesan moral. Kebiasaan memang sulit dipalsukan dalam waktu puluhan tahun.
Pengaruh Buya Syafii terhadap Muhammadiyah juga menarik diamati. Organisasi itu sejak awal memiliki karakter yang unik. Rumah sakit, sekolah, universitas, panti asuhan, hingga lembaga zakat, dibangun dalam jumlah besar. Kekayaan institusi bertambah dari dekade ke dekade. Kekayaan pribadi para tokohnya justru tidak identik dengan pertumbuhan lembaga itu. Orang bisa menjadi pimpinan organisasi yang mengelola aset triliunan rupiah tanpa hidup seperti miliarder.
Fenomena seperti itu jarang dibahas, karena masyarakat lebih tertarik menghitung jumlah gedung daripada karakter orang yang mengelolanya.
Buya Syafii sendiri tidak bebas dari kritik. Sebagian kalangan Islam konservatif menganggap pandangannya terlalu liberal. Kelompok nasionalis tertentu menganggapnya terlalu religius. Sebagian orang Muhammadiyah berharap ia lebih keras terhadap pemerintah. Sebagian lain justru menganggapnya terlalu sering mengkritik negara. Kritik datang dari berbagai arah. Anehnya, wajahnya tetap tenang dalam banyak kesempatan. Bukan tenang karena tidak peduli, tetapi karena tampaknya ia sudah menerima bahwa menyenangkan semua orang memang pekerjaan yang mustahil.
Saya sering merasa Indonesia mengalami kekurangan teladan yang tenang.
Tokoh yang baik hari ini hampir selalu harus menarik perhatian. Ia harus lucu, pandai membuat video pendek, pandai memainkan algoritma, pandai menciptakan kontroversi. Kehadiran yang terlalu tenang cepat tenggelam. Buya Syafii hampir bergerak ke arah sebaliknya. Ia tampak tidak terlalu peduli apakah publik sedang memperhatikannya atau tidak. Justru karena itulah banyak orang terus mengingatnya.
Beberapa bulan setelah wafatnya pada Mei 2022, banyak orang kembali mengunggah foto-foto lama dirinya. Bukan foto ketika berpidato di depan ribuan peserta Muktamar Muhammadiyah. Bukan pula foto saat menerima penghargaan kenegaraan. Foto yang paling sering muncul justru memperlihatkan lelaki tua dengan baju sederhana, mengayuh sepeda, duduk di bangku rumah sakit, berbincang santai bersama mahasiswa, atau berjalan kaki tanpa rombongan.
Ingatan publik ternyata bekerja dengan cara yang aneh. Gelar akademik dari Universitas Chicago tetap penting. Kepemimpinannya di Muhammadiyah tetap bagian besar dalam sejarah organisasi. Puluhan bukunya tetap dibaca. Namun gambar yang melekat paling kuat justru bukan semua itu.
Seorang lelaki tua memegang nomor antrean.
Sejarah mungkin sesekali memilih detail yang tampaknya sepele untuk menguji apakah seseorang sungguh percaya pada nilai-nilai yang selama puluhan tahun ia ucapkan. Buya Syafii tampaknya tidak pernah sadar sedang mengikuti ujian itu. Karena itulah adegan sederhana tersebut masih terasa hidup, bahkan setelah kursi-kursi kepemimpinan yang pernah didudukinya sudah lama kosong.
Catatan terkait: Gus Mus: Ulama, Penyair, Figur Budaya, dan Sesepuh Bangsa


