Keputusan Gila yang Menghasilkan Keuntungan atau Kegagalan

Ilustrasi milik BSM
Asap uang terbakar sebenarnya tidak berbau romantis. Baunya tajam, pahit, dan membuat tenggorokan terasa kering. Pablo Escobar pernah mengaku membakar sekitar dua juta dolar untuk menghangatkan putrinya yang kedinginan saat bersembunyi dari kejaran aparat. Kisah itu mungkin dibesar-besarkan, mungkin juga benar. Tidak terlalu penting. Yang penting adalah fakta bahwa ada manusia yang bisa menganggap dua juta dolar sebagai kayu bakar.

Dunia teknologi modern punya versi sendiri tentang membakar uang. Bedanya, yang dibakar bukan lembaran dolar di tungku darurat pegunungan Kolombia. Yang dibakar adalah laporan keuangan.

Ketika orang membaca berita bahwa OpenAI merugi miliaran dolar, atau ketika perusahaan seperti Amazon, Uber, Tesla, Netflix, bahkan Facebook pada masa tertentu menghabiskan uang jauh lebih cepat daripada menghasilkan uang, muncul reaksi yang sangat manusiawi: bagaimana mungkin perusahaan seperti itu bisa bertahan?

Logika sehari-hari berkata sebuah warung yang terus rugi akan tutup. Sebuah toko elektronik yang terus merugi akan bangkrut. Seorang pedagang bakso yang pengeluarannya selalu lebih besar daripada pemasukannya tidak akan bertahan lama.

Dunia teknologi sering bergerak dengan logika yang berbeda. Kadang-kadang masuk akal. Kadang-kadang tampak seperti kegilaan kolektif yang kebetulan berhasil.

Jeff Bezos memahami hal itu lebih awal dibanding banyak orang lain. Pada akhir 1990-an, kantor Amazon di Seattle masih jauh dari citra perusahaan raksasa saat ini. Rak-rak buku, meja kerja yang dibuat dari pintu kayu bekas, pegawai yang bekerja sangat panjang. Amazon menjual buku dan terus menghabiskan uang. Tahun demi tahun, kerugian datang silih berganti. Banyak analis Wall Street menganggap Bezos sedang menjalankan perusahaan yang tidak sehat. Majalah bisnis menulis kritik. Investor mengeluh.

Harga saham Amazon sempat jatuh lebih dari 90 persen setelah gelembung dot-com pecah.

Sembilan puluh persen. Sebagian perusahaan tidak akan pernah bangkit setelah pukulan seperti itu. Bezos justru mempercepat investasi. Gudang baru dibangun. Infrastruktur diperluas. Sistem logistik diperbesar. Ketika pesaing menginjak rem, Amazon menginjak gas lebih dalam.

Keputusan yang pada saat itu tampak gila berubah menjadi salah satu keputusan bisnis paling menguntungkan dalam sejarah modern.

Kisah serupa muncul di tempat lain. Netflix pada awal 2000-an terlihat seperti perusahaan penyewaan DVD yang agak unik. Reed Hastings mengirim cakram film melalui pos. Kedengarannya tidak revolusioner. Hollywood tidak terlalu khawatir. Investor juga tidak terlalu terkesan.

Masalah muncul ketika Netflix mulai beralih ke streaming. Perusahaan harus mengeluarkan uang dalam jumlah luar biasa untuk membeli lisensi film, membangun infrastruktur server, dan kemudian memproduksi konten sendiri. Utang membengkak. Banyak pengamat memperkirakan model tersebut tidak akan bertahan.

Sebuah serial berjudul House of Cards menelan biaya sekitar 100 juta dolar pada masa ketika Netflix belum menjadi raksasa hiburan global. Angka itu terdengar tidak masuk akal. Mengapa perusahaan yang belum stabil justru menghamburkan uang?

Karena Hastings sedang membeli masa depan dengan uang yang belum ia miliki.

Kalimat seperti itu terdengar heroik ketika berhasil. Terdengar bodoh ketika gagal. Perbedaannya baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Mobil listrik membawa cerita yang lebih liar. Pabrik Tesla di Fremont, California, pernah menjadi sumber mimpi buruk bagi Elon Musk. Produksi tersendat. Arus kas menipis. Karyawan bekerja siang malam. Musk tidur di lantai pabrik pada periode tertentu. Tahun 2018 menjadi masa yang sangat kacau. Dalam wawancara, ia mengaku tekanan tersebut hampir menghancurkannya.

Para kritikus sudah berkali-kali mengumumkan kematian Tesla. Judul-judul berita bermunculan. "Tesla akan bangkrut." "Tesla kehabisan uang." "Tesla tidak akan bertahan setahun lagi." Sebagian kritik itu masuk akal. Neraca perusahaan memang berantakan.

Tapi mobil listrik kini memenuhi jalan-jalan dunia. Nilai Tesla pernah melampaui gabungan banyak produsen mobil tradisional yang sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun.

Keadaan jadi lebih aneh ketika melihat Uber. Setiap kali seseorang memesan kendaraan melalui aplikasi pada tahun-tahun awal ekspansinya, perusahaan sering kali kehilangan uang dari transaksi tersebut. Penumpang membayar harga tertentu. Pengemudi menerima insentif. Uber menutup selisihnya. Investor membiayai pembakaran uang tersebut.

Ribuan kota di berbagai negara mengalami fenomena yang sama. Pengguna menikmati tarif murah. Investor menanggung biayanya.

Bayangkan menjelaskan model bisnis itu kepada seorang pedagang pasar tradisional.

"Jadi setiap kali pelanggan membeli produk Anda, Anda rugi?"

"Ya."

"Lalu kenapa tetap dijual?"

"Karena suatu hari nanti mungkin tidak rugi."

Percakapan seperti itu terdengar seperti bahan lawakan.

Uber mencapai valuasi puluhan miliar dolar sebelum benar-benar menunjukkan jalur yang jelas menuju profitabilitas.

Kata yang sering muncul dalam cerita-cerita semacam itu adalah "scale" atau skala. Istilah yang sangat disukai investor Silicon Valley. Logikanya sederhana di atas kertas. Kuasai pasar terlebih dulu. Keuntungan menyusul kemudian.

Masalahnya, dunia nyata tidak selalu mematuhi teori investor. Ribuan startup juga membakar uang. Ribuan startup juga berbicara tentang pertumbuhan. Ribuan startup juga mengutip Amazon. Sebagian besar mati.

Nama-namanya sudah terlupakan. Kozmo. Webvan. Pets.com. Quibi. Beberapa pernah menjadi bintang konferensi teknologi. Beberapa pernah menghiasi sampul majalah bisnis. Uang investor mengalir deras. Presentasi PowerPoint tampak meyakinkan. Hari ini banyak orang bahkan tidak mengenali nama-nama tersebut.

Di situlah bagian yang sering hilang dari narasi populer. Orang suka menceritakan Amazon yang berhasil. Orang jarang membicarakan ratusan Amazon yang gagal. Kuburan bisnis teknologi sangat luas.

OpenAI kini sedang berjalan di wilayah yang sama, meskipun dengan karakteristik berbeda. Perusahaan menghasilkan miliaran dolar pendapatan. Penggunanya ratusan juta. Produknya digunakan oleh pelajar, programmer, mahasiswa, dokter, perusahaan hukum, lembaga riset, dan orang-orang yang sekadar ingin bertanya cara memasak telur. Tagihan komputasinya luar biasa besar.

Sebuah pusat data AI tidak terlihat seperti masa depan yang elegan. Bangunan besar. Rak-rak server. Kabel tebal. Pendingin industri yang terus berdengung. Udara panas. Konsumsi listrik yang membuat kepala berdenyut ketika melihat angkanya.

Orang membayangkan kecerdasan buatan sebagai algoritma. Perusahaan listrik melihatnya sebagai pelanggan. Rasanya agak lucu. Teknologi paling futuristik abad ke-21 ternyata sangat bergantung pada persoalan yang terdengar kuno: berapa megawatt listrik yang tersedia?

Terlalu mudah menyimpulkan bahwa perusahaan yang rugi pasti gagal. Terlalu mudah pula menganggap kerugian besar sebagai tanda kejeniusan.

Sebagian investor tergoda oleh kisah pengorbanan. Pendiri yang nekat. Kerugian yang membengkak. Mimpi besar yang belum menghasilkan uang. Narasi semacam itu punya daya tarik seperti film petualangan.

Masalahnya, dunia bisnis tidak memberikan hadiah karena seseorang berani bermimpi. Laporan keuangan tetap harus bertemu kenyataan. Kadang-kadang kenyataan memberi jalan. Kadang-kadang kenyataan memukul balik.

Seorang analis investasi di Manhattan bisa menatap layar Bloomberg sepanjang hari, mempelajari angka-angka pertumbuhan, memproyeksikan masa depan perusahaan AI, menghitung margin operasional. Di Nevada, teknisi pusat data sedang mengganti perangkat keras yang panas berlebihan. Di Seattle, seorang investor membaca surat tahunan Bezos yang lama. Di San Francisco, startup baru mengumpulkan dana dengan presentasi yang terdengar mirip presentasi startup gagal sepuluh tahun lalu.

Mesin pendingin terus berdengung. Tagihan listrik terus berjalan. Seseorang menandatangani cek bernilai ratusan juta dolar. Seseorang lain membuka laporan keuangan dan mengernyitkan dahi.


Related

Iptek 2117452216278636005

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item