Henry Walker McIver, di Antara Perang dan Kehidupan Sehari-hari

Ilustrasi milik BSM
Perang bagi Henry Walker McIver ternyata kadang berupa gambar. Ketika ia menulis surat untuk keluarganya, isi surat itu bukan berita tentang ledakan, tank, atau jenazah yang lebih sering muncul, tetapi pemandangan. Seorang perempuan. Hewan ternak. Jalan desa. Tentara yang sedang duduk di samping tenda. Pegunungan Italia yang ujungnya lenyap di balik kabut. Sebuah jalan kota Prancis dengan trem, bus, sepeda, tentara, warga sipil, bahkan seseorang yang sedang berjalan membawa anjing kecil. Ia membawa pensil dan tinta ke perang, kemudian memakai keduanya untuk membuat keluarganya melihat apa yang ia lihat.

Pilihan itu terasa ganjil kalau kita mengingat bahwa McIver sebenarnya bukan dikirim ke Eropa untuk menjadi seniman perang. Ia pernah belajar di sekolah seni, kemudian masuk Angkatan Darat pada 1942 dan masuk Signal Corps. Ia sempat dijanjikan peluang menuju Officer Candidate School setelah pelatihan pra-induksi. Kenyataannya berbeda. Ia ditempatkan pada pekerjaan kriptografi dan perbaikan perangkat SIGABA, mesin pengkodean yang digunakan untuk komunikasi rahasia militer. Ia bekerja dalam tim sekitar sepuluh orang, dengan aturan keamanan yang sangat ketat. 

Jadi terdapat dua McIver dalam arsip tersebut. Yang pertama bekerja dengan mesin rahasia yang tidak boleh ia ceritakan. Yang kedua, pada malam hari, mengambil kertas dan menggambar apa yang boleh ia ceritakan.

Bagian kedua justru lebih hidup.

Memoarnya menyimpan adegan dari perjalanan menuju Afrika Utara pada 31 Agustus 1943. Ia berada di ruang kapal yang gelap dan pengap. Dari luar terdengar tembakan antipesawat, pesawat yang melintas, serta ledakan bom di dekat kapal. Di tengah suara tersebut, ia mengalami kesadaran sederhana yang sangat fisik: perang ternyata sungguhan. Bukan lagi sesuatu yang dibaca di koran atau dibicarakan orang. Kapal bergetar, udara di ruang sempit terasa kotor, dan suara dari luar tidak dapat diperdebatkan.

Beberapa bulan kemudian, surat-suratnya mulai berubah menjadi semacam buku catatan perjalanan yang dibuat dari tempat-tempat yang sedang dilalui tentara.

Surat 15 Desember 1943 memiliki pembukaan yang sangat McIver: ia mengatakan surat tersebut baru akan menjadi “fondasi” karena sehari sebelumnya ia sudah mengirim surat lain. Ia punya waktu lagi hari itu untuk menuliskan sedikit. Biasanya, katanya, ketika mulai menulis, ia justru lupa ratusan hal yang ingin diceritakan.

Kalimat kecil itu mungkin merupakan kunci untuk memahami seluruh koleksinya. Ia takut lupa.

Perang memproduksi begitu banyak pengalaman sampai ingatan tidak mampu menyimpannya dengan tertib. McIver rupanya mengatasi masalah itu dengan cara yang sangat konkret: ia menulis dan menggambar. Ketika sesuatu menarik perhatiannya, ia mencatatnya. Bukan hanya pertempuran atau pergerakan pasukan. Ia memperhatikan manusia yang mencuci pakaian, kendaraan, bentuk rumah, jalan, pakaian penduduk, cuaca, makanan, bahkan cara orang naik kendaraan umum.

Surat 10 Maret 1944, misalnya, datang dari kawasan Venafro di Italia. McIver menggambar lanskap pegunungan di sana. Ia menulis tentang salju yang menutupi bagian-bagian bukit dengan jumlah berbeda tergantung cuaca. Pada suatu perjalanan melewati lembah, kabut masih menggantung rendah sementara awan menutup bagian atas gunung. Yang terlihat hanya potongan gunung di antara kabut dan awan, membuat pegunungan itu tampak menggantung.

Perang Italia sering dibicarakan melalui Monte Cassino, garis pertahanan Jerman, artileri, dan korban. McIver melihat Monte Cassino juga, karena arsip dinasnya mencatat kampanye tersebut. Namun suratnya tidak berhenti pada nama pertempuran. Ia memperhatikan bentuk pegunungan.

Saya kira itu bukan kebetulan. Seorang seniman yang dipaksa menjadi teknisi kriptografi mungkin akan melihat tempat secara berbeda. Ketika orang lain melihat “Italia”, ia melihat kemiringan tanah, bentuk tenda, wajah penduduk, pakaian, jalan, atau warna langit. Perang baginya tidak pernah benar-benar abstrak. Tempat-tempat yang dilewati memiliki bentuk.

Pada 4 Juni 1944, ia bahkan menggambar rumahnya sendiri. Rumah tersebut adalah tenda kecil di pedesaan Italia. Ia menjelaskan bahwa tenda itu dipasang di bawah cahaya bulan bersama teman sekamarnya. Tanahnya miring—McIver menulis dengan humor bahwa hampir seluruh Italia memang begitu. Ia menggunakan tungku lapangan untuk membantu menahan tanah dan membuat tempat berlindung. Tenda pup tent tersebut tidak mengikuti instruksi dasar pelatihan, tetapi menurutnya bekerja dengan sangat baik.

Satu kalimat tentang tenda memberi gambaran kehidupan tentara yang tidak membutuhkan dramatisasi tambahan. Orang harus tidur di tanah. Tanah miring. Hujan turun. Tenda dipasang dengan cara yang mungkin tidak sesuai buku manual. Kemudian mereka hidup di dalamnya.

Surat 26 Juni lebih rinci lagi. McIver sedang menjalani kehidupan di hutan Italia ketika hujan turun berulang kali. Ia menggambar seorang tentara duduk di dalam tempat berlindung kecil sementara hujan turun di luar. Ia menerangkan bahwa tempat itu ternyata cukup efektif menjaga tubuh tetap kering. Masalahnya justru pakaian yang sudah basah dari luar tidak akan kering sampai matahari muncul. Tenda terlalu sempit ketika cuaca buruk, tetapi, jika matahari keluar, ruang kecil tersebut berubah menjadi sangat panas. Teman sekamarnya kemudian membawa tempat berlindung serupa dan mereka menyambungkannya sehingga ruang tidur jadi lebih tinggi dan lebih lebar.

Perang ternyata juga terdiri dari persoalan seperti itu: bagaimana mengeringkan pakaian.

Tidak ada yang heroik. Tidak ada musik latar. Pakaian basah, tanah becek, tenda panas, tubuh yang ingin tidur. McIver memperhatikan semuanya karena ia tahu keluarganya di rumah tidak akan pernah melihatnya.

Hubungannya dengan penduduk Italia juga muncul dalam surat dan wawancara. Library of Congress mencatat secara khusus rekaman wawancara McIver mengenai reaksi warga Italia terhadap tentara Amerika dan terhadap pasukan kolonial Prancis yang ikut berada di kawasan tersebut. Surat-suratnya juga menggambarkan interaksi dengan penduduk lokal.

McIver tidak menulis seolah-olah semua orang di sekelilingnya hanyalah figuran dalam kisah kemenangan Amerika. Mereka mempunyai pakaian, kebiasaan, pekerjaan, dan cara memandang tentara asing. Ia memperhatikan perbedaan itu. Gambar-gambarnya membantu karena kadang sebuah pakaian lebih mudah dijelaskan dengan garis tinta daripada tiga paragraf.

Menjelang 1945, medan pengamatannya bergeser ke Prancis. Surat 12 Februari 1945 memperlihatkan McIver memperhatikan sistem transportasi kota dengan perhatian hampir seperti seorang ilustrator yang sedang membuat sketsa sosial. Ia menggambarkan bus dan trem yang penuh sesak, pintu yang dibiarkan terbuka, orang-orang yang bergelantungan pada bagian luar kendaraan, dan pengendara sepeda yang menumpang dengan berpegangan pada truk atau bus. Ia bahkan memperhatikan kecepatan sekitar 60 kilometer per jam yang dianggapnya cukup gila untuk praktik semacam itu.

Kemudian radio menyala.

McIver mendengarkan stasiun Jerman yang memainkan musik swing Amerika. Pengumuman disampaikan dalam bahasa Jerman. Program propaganda yang ditujukan kepada tentara Amerika masih terdengar. Ia berpindah dari musik ke propaganda, dari propaganda ke berita, dari berita ke film Soviet dengan sulih suara Inggris dan teks Prancis. 

Di sebuah surat yang sama, ia menceritakan seorang warga Prancis yang ditemuinya dan yang pernah mengalami interogasi Gestapo. Bagi McIver, film propaganda Amerika yang dulu ia anggap penuh bualan ternyata dibaca secara berbeda oleh orang Prancis yang pernah melihat kekerasan Gestapo secara langsung.

Perubahan perspektif itu sangat kasar. Di Amerika, seseorang bisa menonton film perang lalu menganggapnya terlalu dramatis. Di Prancis, seseorang yang pernah melihat orang digantung atau mendengar kisah interogasi Gestapo mungkin tidak mempunyai jarak yang sama terhadap adegan tersebut.

McIver tidak mencoba menyelesaikan perbedaan itu dalam suratnya. Ia hanya mencatatnya.

Itulah kekuatan koleksinya. Surat-surat tersebut tidak berusaha membuat perang jadi lebih indah daripada kenyataannya. McIver juga tidak mengubah dirinya menjadi tokoh utama yang selalu berada di tengah kejadian besar. Ia bekerja dengan mesin rahasia, tidur di tenda, kehujanan, melihat pegunungan, memperhatikan orang Italia, naik kendaraan, mendengar radio Jerman, menonton film, kemudian duduk dan menggambar.

Library of Congress kini menyimpan empat belas suratnya, sebuah memoar, sembilan foto, dokumen militer, dan rekaman wawancara yang dilakukan pada 2009. Surat-surat tersebut berasal dari 1943–1945 dan memperlihatkan perjalanan McIver melalui Aljazair, Italia, dan Prancis.

Yang membuatnya berharga bukan karena McIver melihat lebih banyak perang daripada orang lain. Ia justru menyimpan bagian-bagian yang biasanya dianggap terlalu kecil untuk sejarah.

Sebuah gunung yang separuh hilang dalam kabut. Tenda yang dipasang di tanah miring. Pakaian basah yang tidak kunjung kering. Bus yang terlalu penuh. Seorang warga Prancis yang punya pengalaman sendiri tentang Gestapo. Musik Chattanooga Choo-Choo yang terdengar dari radio Jerman.

McIver menggambar semua itu di bagian atas surat, sementara di bawahnya ia menulis kepada keluarganya di Rochester, New York.

Surat-surat tersebut kemudian disimpan selama puluhan tahun. Gambar-gambar kecilnya masih berada di sana. Tentara itu sudah lama pulang, tetapi tenda, gunung, bus, jalan, manusia dan hujan masih memenuhi kertasnya.


Related

Sejarah 5012801329979234165

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item