Hoi An, Kota Masa Lalu yang Kian Rapuh di Abad Modern
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/hoi-kota-masa-lalu-yang-kian-rapuh-di.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Lampion mulai menyala ketika cahaya sore belum benar-benar hilang. Merah, kuning, biru, ungu, bergoyang di depan rumah-rumah kayu di Jalan Trần Phú. Wisatawan berhenti hampir setiap beberapa meter. Ponsel diangkat, kepala sedikit dimiringkan, satu foto, dua foto, pindah lagi. Seorang penjual menata lampion di depan tokonya. Seorang anak berlari melewati kerumunan. Sepeda lewat pelan. Dari arah Thu Bồn terdengar suara perahu dan percakapan yang bercampur dengan musik dari restoran.
Sulit menemukan suasana yang lebih cocok dengan gambaran orang tentang kota tua Asia. Karena itu Hoi An menarik.
Kota itu tidak terutama menjual satu bangunan yang harus dilihat selama lima belas menit sebelum wisatawan pergi. Yang dijual adalah suasana secara keseluruhan: jalan sempit, rumah pedagang tua, lampion, makanan, sungai, toko kain, kedai kopi, sepeda, pakaian tradisional, cahaya malam. Wisatawan datang untuk merasa bahwa mereka sedang memasuki sebuah kota lama yang masih hidup.
UNESCO bahkan menggambarkan Hoi An Ancient Town sebagai contoh yang sangat terpelihara dari pelabuhan dagang Asia Tenggara abad ke-15 sampai ke-19, dengan perpaduan pengaruh lokal, Tiongkok, Jepang, dan Eropa. Yang lebih penting untuk cerita ini, UNESCO juga menekankan bahwa kota tersebut masih dihuni dan tetap berfungsi sebagai pusat perdagangan serta mempertahankan living heritage.
Kata “living” itu punya konsekuensi.
Kalau Hoi An benar-benar hanya museum, masalahnya sederhana. Orang datang, membayar tiket, melihat bangunan, mengambil foto, kemudian pulang. Tapi Hoi An justru tidak bekerja seperti itu. Rumah-rumah tua masih digunakan. Toko berada di lantai depan. Orang memasak di belakang. Keluarga tinggal di sana. Pedagang membuka pintu pada pagi hari. Tukang memperbaiki bagian rumah yang rusak. Kayu harus dirawat. Atap harus diganti. Air masuk ketika hujan deras. Kehidupan terus menuntut sesuatu dari bangunan yang oleh wisatawan dianggap sebagai peninggalan sejarah.
Bahkan pemeliharaan rumah tua dapat menjadi pekerjaan yang mahal dan merepotkan. Dalam dokumentasi UNESCO dan NHK tentang Hoi An, pemilik rumah-rumah lama digambarkan harus menggunakan teknik tradisional ketika melakukan renovasi; bagian kayu lama dipakai kembali jika memungkinkan, dan bahan baru harus menyesuaikan bahan lama. Rumah-rumah semacam itu bukan benda mati yang cukup dibersihkan seminggu sekali. Ia terus rusak dan harus diperbaiki.
Di sanalah pariwisata masuk dengan wajah yang agak menyebalkan karena sekaligus dibutuhkan.
Wisatawan menghasilkan uang yang dapat membantu mempertahankan kota tua. Pendapatan tiket masuk digunakan untuk pengelolaan, konservasi, dan promosi kawasan. UNESCO bahkan menyebut bahwa pengelolaan Hoi An melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk mempertahankan autentisitas dan integritas kawasan. Sebuah studi tentang penduduk Hoi An juga menemukan bahwa warga secara umum melihat dampak ekonomi dan sosial-budaya pariwisata secara positif, meskipun dampak lingkungan dinilai lebih negatif.
Jadi, orang yang tinggal di Hoi An tidak otomatis membenci wisatawan. Mereka punya hubungan yang jauh lebih praktis. Wisatawan adalah pelanggan, sumber penghasilan, alasan sebuah rumah tua tetap dirawat, sekaligus manusia yang kadang memenuhi jalan sampai orang yang tinggal di sana sendiri susah bergerak.
Penelitian tentang perubahan Hoi An memperlihatkan sisi yang lebih mengganggu. Studi longitudinal mengenai perkembangan kawasan warisan itu menemukan bahwa pada 2010 populasi di pusat kota telah berkurang sekitar 20 persen. Bangunan warisan mengalami adaptive reuse: rumah-rumah pribadi berubah menjadi toko dan jasa wisata, sementara pusat kota semakin menyerupai panggung pariwisata. Para peneliti menggunakan istilah museumification untuk menggambarkan proses tersebut.
Kata itu memang terasa kejam.
Museumifikasi berarti sebuah tempat masih tampak hidup, tetapi fungsi hidupnya perlahan berubah. Pintu rumah masih ada, hanya saja yang berada di baliknya bukan lagi ruang keluarga. Jendela tua masih terbuka, tetapi barang di belakangnya dijual kepada pengunjung. Halaman tempat seseorang dulu duduk sore hari dapat berubah menjadi restoran. Rumah tetap berdiri. Cat tetap dipertahankan. Lampion tetap digantung. Yang bergeser adalah alasan orang berada di sana.
Penelitian lain tentang sistem pangan Hoi An menggambarkan perubahan yang bahkan lebih luas. Setelah Hoi An masuk daftar Warisan Dunia UNESCO pada 1999, pariwisata berkembang pesat. Pada 2019, kota itu menerima lebih dari lima juta wisatawan menginap, sementara lebih dari 600 hotel, hostel, homestay, dan resor, beroperasi. Kawasan wisata juga terus meluas keluar dari Ancient Town, dan sebagian penduduk yang dulu tinggal di dalam kawasan tua menjual properti lalu pindah ke daerah sekitarnya.
Wisatawan datang untuk melihat kehidupan lama. Kehidupan lama itu sendiri bergerak keluar.
Persoalannya tidak berhenti pada rumah. Bahkan makanan bisa berubah ketika sebuah kota menjadi pengalaman wisata. Cita rasa lokal harus diterjemahkan kepada orang yang tidak tumbuh bersama makanan tersebut. Porsi harus masuk akal bagi wisatawan. Menu harus mudah dibaca. Restoran perlu terlihat tua dengan cara yang nyaman bagi pengunjung. Kursi harus cukup. Toilet harus tersedia. Kebersihan harus dijaga. Harga harus dinaikkan atau diturunkan sesuai pasar. Seseorang yang menjual makanan tradisional akhirnya harus memikirkan dua hal sekaligus: bagaimana mempertahankan apa yang biasa ia makan, dan bagaimana menjelaskan makanan itu kepada orang yang baru pertama kali mencicipinya.
Begitu pula dengan pakaian. Wisatawan bisa menyewa áo dài, berjalan di jalan tua, berdiri di bawah lampion, lalu berfoto. Orang Hoi An, yang mengenakan pakaian tradisional untuk pekerjaan atau pertunjukan, berada dalam situasi berbeda. Ketika sebuah pakaian mulai sering muncul dalam foto wisatawan, pakaian itu memperoleh kehidupan kedua sebagai simbol. Ia tidak lagi hanya dikenakan. Ia mulai merepresentasikan Hoi An.
Manusia cukup cepat belajar mengenali apa yang diinginkan orang lain dari dirinya.
Seorang pedagang mengetahui sudut mana yang bagus untuk difoto. Pemilik toko tahu lampion warna apa yang paling menarik. Penjahit tahu model pakaian apa yang paling sering diminta. Pemilik restoran tahu meja mana yang paling enak untuk foto. Seorang pemandu tahu kalimat mana yang membuat wisatawan mengeluarkan ponsel. Tidak ada yang perlu bersekongkol. Pasar mengajarkan semua itu sedikit demi sedikit. Pertanyaan “apakah ini autentik?” lalu jadi semakin sulit.
Karena kebudayaan memang selalu berubah. Hoi An sendiri lahir dari perdagangan dan pertemuan banyak kelompok: penduduk lokal, pedagang Tiongkok, Jepang, dan kemudian pengaruh Eropa. Rumah-rumah yang sekarang dianggap sangat khas Hoi An juga merupakan hasil dari sejarah perdagangan yang panjang. UNESCO menyebut perpaduan budaya tersebut sebagai bagian dari nilai luar biasa kota itu. Keaslian Hoi An sejak awal bukan kemurnian yang beku.
Masalah baru muncul ketika perubahan itu diarahkan oleh tatapan wisatawan. Kota mulai belajar bagaimana seharusnya tampak ketika difoto.
Hal itu juga menjelaskan mengapa malam lampion terasa begitu kuat sebagai pengalaman wisata. Hoi An memang mempunyai festival lampion pada malam bulan purnama, tetapi lampion telah berkembang menjadi bagian dari citra kota secara jauh lebih luas. Cahaya kuning, dinding tua, sungai gelap, perahu, pakaian tradisional, orang-orang berjalan kaki. Semua elemen itu saling memperkuat. Satu orang mengambil foto, foto itu masuk Instagram, wisatawan berikutnya datang dengan gambaran yang sudah terbentuk, kota mempertahankan tampilan yang sama, foto baru muncul lagi.
Tidak ada yang sepenuhnya palsu dalam proses itu. Lampion memang ada. Rumah tua memang ada. Sungai Thu Bồn memang mengalir. Makanan itu memang dimasak. Orang-orang memang bekerja di sana. Justru karena semuanya nyata, batas antara kehidupan dan pertunjukan jadi sulit ditentukan.
UNESCO sekarang memakai gagasan “culture in the economy – economy in culture” untuk menggambarkan arah Hoi An sebagai kota kreatif. Pemerintah kota mendukung kerajinan tradisional dan seni rakyat, termasuk bài chòi, sementara kebijakan budaya juga diarahkan untuk memastikan generasi muda tetap memiliki akses kepada keterampilan dan kegiatan budaya. Program dukungan terhadap Hoi An Memories Island Culture Show, misalnya, telah melibatkan sekitar 500 perajin dan seniman lokal.
Jadi kehidupan lama memang sedang dipentaskan. Tetapi sebagian dari kehidupan itu juga sedang diselamatkan melalui pementasan.
Itulah bagian yang membuat Hoi An lebih menarik daripada cerita sederhana tentang “wisatawan merusak budaya”. Penduduk dapat mengubah rumah menjadi toko karena mereka membutuhkan uang, kemudian memakai uang itu untuk memperbaiki rumah. Mereka dapat menjual kerajinan kepada wisatawan sambil mengajarkan tekniknya kepada anak-anak. Mereka dapat memasang lampion karena wisatawan menyukainya, dan karena lampion memang sudah menjadi bagian dari kehidupan kota. Mereka dapat sekaligus menikmati manfaat pariwisata dan merasa lelah terhadap pariwisata.
Pada hari tertentu, seseorang mungkin membuka pintu rumahnya dan mendapati lima orang asing berdiri di depan, karena mereka menganggap fasad rumah itu indah. Ia bisa tersenyum. Ia juga bisa ingin menutup pintu.
Kedua reaksi itu manusiawi.
Program keberlanjutan Hoi An menunjukkan betapa konkret tekanan tersebut. UNESCO mencatat bahwa sekitar 40 persen sampah kota sebelum pandemi dikaitkan dengan pariwisata. Toko, restoran, hotel, dan pedagang, harus dilibatkan dalam pengurangan plastik karena mempertahankan kota tua yang indah membutuhkan lebih dari sekadar menjaga warna cat bangunan. Pada Februari 2026, UNESCO bahkan menyetujui bantuan darurat sebesar US$75.000 untuk restorasi rumah tua di 68 Trần Phú. Bangunan itu masih berdiri, tetapi keberadaannya membutuhkan uang, keahlian, dan keputusan manusia yang sangat konkret.
Malam makin ramai. Lampion memantul di permukaan Thu Bồn. Orang-orang mengambil foto dari tepi sungai. Seorang pedagang menghitung uang. Di sebuah rumah tua, seseorang mungkin sedang makan malam di balik pintu yang dari luar tampak sangat fotogenik. Bagi wisatawan, pintu itu bagian dari Hoi An.
Bagi orang di dalamnya, mungkin itu cuma pintu rumah.
Dan setelah semua orang selesai memotret, pintu itu tetap harus ditutup.
Catatan terkait: Petra, Kota Masa Lalu yang Terus Hidup di Zaman Modern


