Johannesburg dan Sore yang Selalu Terasa Mencekam
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/johannesburg-dan-sore-yang-selalu.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Pukul 17.00 di Johannesburg, orang mulai menghitung jarak dengan cara yang berbeda. Bukan lagi berapa kilometer menuju rumah, tetapi berapa lama jalan itu masih terasa aman, di mana harus berbelok, kapan harus berhenti berjalan, apakah perlu memesan kendaraan sekarang atau masih bisa menunggu sepuluh menit. Sebuah jalan yang pada siang hari hanya berarti jalan pulang dapat berubah fungsi ketika cahaya mulai surut. Toko yang tadi dilewati dengan santai mendadak jadi tempat yang tidak ingin didekati. Trotoar yang kosong terasa lebih panjang daripada sebelumnya.
Rasa takut punya kemampuan aneh untuk mengubah peta tanpa memindahkan satu pun bangunan.
Kajian Aidan Mosselson tentang kehidupan di pusat kota Johannesburg menyebut ketakutan terhadap kejahatan sebagai bagian penting dari pengalaman urban sehari-hari. Yang berubah bukan hanya persepsi tentang keamanan, melainkan cara orang bergerak, menggunakan ruang publik, berhubungan dengan orang lain, dan membentuk kehidupan sosialnya. Orang memilih rute tertentu, menghindari ruang tertentu, membatasi interaksi dengan orang asing. Ketakutan jadi semacam aturan tak tertulis yang tidak tercetak di papan nama jalan.
Itulah bagian Johannesburg yang jauh lebih menarik daripada daftar angka kriminalitas. Statistik memberi tahu berapa banyak kejahatan terjadi. Ketakutan memberi tahu apa yang dilakukan manusia setelah mendengar cerita tentang kejahatan.
Seorang penghuni apartemen di Braamfontein mungkin tidak pernah dirampok di jalan tertentu, tetapi ia tahu orang lain pernah mengalaminya. Informasi berpindah lewat WhatsApp, percakapan dengan tetangga, penjaga gedung, berita lokal, teman kantor. Jalan yang sebenarnya belum tentu berbeda, hari ini jadi berbeda di kepala. Satu pengalaman buruk orang lain dapat membuat sepuluh orang mengubah rute mereka selama berbulan-bulan.
Kota kemudian mulai dipakai secara tidak langsung. Orang tetap memiliki restoran favorit, tetapi tidak selalu berjalan kaki ke sana. Mereka tetap ingin membeli sesuatu di toko, tetapi memesan kendaraan. Mereka masih tinggal dekat taman, tetapi jarang duduk di sana setelah sore. Pertemuan dengan teman dipindahkan ke tempat yang memiliki parkir, penjaga, pintu, kamera, dan orang lain. Ruang publik perlahan kehilangan fungsi sebagai tempat bertemu orang yang tidak dikenal.
Hal itu penting di Johannesburg, karena sejarah kota itu bahkan sudah lama berkaitan dengan pertanyaan: siapa boleh berada di mana?
Segregasi rasial Johannesburg tidak dimulai begitu saja ketika apartheid resmi berjalan setelah 1948. Penelitian Susan Parnell menunjukkan bahwa regulasi seperti Natives (Urban Areas) Act 1923 sudah membentuk pemisahan ruang berdasarkan ras, sekaligus mengatur kehidupan penduduk kulit hitam sebagai tenaga kerja kota tanpa memberi mereka kedudukan yang sama di dalam kota tersebut. Kebijakan apartheid kemudian memperkeras pola itu. Pusat kota, suburb (daerah pinggiran), township, tempat kerja, transportasi, dan perumahan, disusun dengan logika pemisahan.
Richard Ballard, Christian Hamann, dan Thembani Mkhize, menggambarkan Johannesburg pasca-apartheid sebagai kota yang mengalami perubahan sekaligus pengulangan. Inner city (kawasan pusat) terutama dihuni penduduk kulit hitam, suburb lama yang dulu didominasi warga kulit putih jadi lebih beragam, tetapi banyak township dan pemukiman informal tetap berada jauh dari kawasan makmur. Harga tanah juga mempertahankan hierarki ruang lama.
Jadi kota sudah mempunyai memori tentang pemisahan, jauh sebelum orang mulai berbicara tentang gated communities, kamera keamanan, atau aplikasi transportasi.
Ketakutan kemudian menambahkan lapisan baru.
Di kawasan seperti Sandton, Johannesburg menampilkan wajah kota global yang sangat berbeda. Gedung-gedung perkantoran tinggi, pusat belanja, restoran, hotel, trotoar yang lebih terawat, dan kompleks yang dirancang agar orang bisa melakukan banyak hal tanpa harus berhadapan terlalu lama dengan jalan kota. Sandton City dan Nelson Mandela Square menjadi ruang urban yang nyaman untuk kelompok tertentu. Seseorang dapat bekerja, makan, berbelanja, bertemu teman, naik kendaraan, lalu pulang tanpa pernah membutuhkan banyak interaksi dengan bagian kota lainnya.
Di Maboneng, cerita tentang kota juga berubah. Kawasan yang pernah mengalami kemunduran kemudian dikembangkan sebagai distrik kreatif dengan apartemen, restoran, galeri, studio, dan bisnis baru. Penelitian tentang Maboneng dan Braamfontein menunjukkan bahwa regenerasi semacam itu membawa investasi dan perubahan fisik, sekaligus persoalan gentrifikasi dan kemungkinan tersingkirnya kelompok yang lebih rentan.
Kota yang aman sering kali bukan kota yang seluruh jalannya aman. Ia adalah kota yang memungkinkan seseorang membeli rasa aman.
Pagar menjadi penting. Penjaga menjadi penting. Tempat parkir berpagar menjadi penting. Tombol panik, kamera CCTV, akses kartu, gerbang otomatis, kendaraan pribadi. Semua benda itu terlihat biasa sampai kita bertanya mengapa sebuah kota membutuhkan begitu banyak mekanisme untuk membuat seseorang merasa nyaman berjalan dari pintu ke pintu.
Ketika rasa takut cukup kuat, orang asing bahkan berubah bentuk. Orang yang berjalan mendekat bukan lagi sekadar pejalan kaki. Ia menjadi sesuatu yang harus diperiksa. Mengapa ia berhenti? Mengapa ia menatap ke sini? Mengapa ia berdiri dekat mobil? Mengapa ia mengikuti arah yang sama?
Hal itu mempunyai konsekuensi yang lebih dalam daripada sekadar kewaspadaan. Ruang kota membutuhkan sedikit ketidakpastian agar kehidupan sosial tumbuh. Kita duduk di sebelah orang yang tidak dikenal di halte. Kita bertanya arah kepada seseorang. Kita melihat pedagang yang belum pernah kita temui. Kita berjalan melewati taman dan mungkin menyapa orang yang sedang membawa anjing. Ketika setiap orang asing terlebih dulu dibaca sebagai potensi ancaman, hubungan sosial jadi lebih miskin dan kota terasa semakin terputus.
Aidan Mosselson justru menunjukkan persoalan itu dalam penelitian tentang Johannesburg bagian dalam: talk of crime dapat menutupi persoalan struktural yang lebih besar. Ketakutan memang berhubungan dengan kejahatan nyata, tetapi pembicaraan tentang kejahatan juga menjadi cara orang memahami posisi sosial mereka, dan menjelaskan mengapa mereka merasa tidak terhubung dengan lingkungan tempat tinggalnya.
Itu bagian yang membuat Johannesburg tidak bisa dibaca hanya sebagai “kota dengan tingkat kriminalitas tinggi”. Label tersebut terlalu malas. Ia tidak menjelaskan mengapa dua orang yang berada di jalan yang sama dapat memiliki pengalaman kota yang sangat berbeda.
Seorang pengemudi yang membawa penumpang dari Sandton ke Soweto mungkin melewati jalan yang sama setiap hari. Penumpangnya melihat Johannesburg melalui kaca mobil. Sopir melihat pom bensin tempat ia biasa berhenti, persimpangan yang harus dihindari, polisi yang sering terlihat, toko tempat ia membeli makanan, dan jalan yang tidak ingin ia lewati setelah jam tertentu. GPS menunjukkan satu rute. Tubuh manusia menyimpan rute lain.
Kota juga mengajari orang kapan harus pulang. Pukul 18.00 bukan sekadar waktu pada jam tangan. Bagi sebagian orang, itu batas antara berjalan santai dan memesan kendaraan. Pukul 20.00 mungkin berarti restoran masih buka, tetapi berjalan kaki sudah tidak masuk pilihan. Tengah malam bagi sebagian warga berarti kehidupan malam; bagi orang lain berarti pintu rumah harus sudah terkunci.
Orang luar sering datang ke Johannesburg dengan daftar tempat: Constitution Hill, Apartheid Museum, Maboneng, Soweto, Gold Reef City, Sandton. Mereka bergerak dari satu titik ke titik lain dengan kendaraan, pemandu, atau itinerary. Kota tampil sebagai kumpulan lokasi.
Penduduk setempat tidak mempunyai kemewahan semacam itu. Mereka harus menghubungkan titik-titik tersebut setiap hari.
Pagi berikutnya, Johannesburg kembali sibuk. Minibus taksi berhenti, pintu dibuka, orang naik dengan cepat. Pedagang membuka toko. Pekerja berjalan menuju tempat kerja. Matahari naik di antara gedung-gedung. Orang yang kemarin menghindari satu jalan mungkin melewatinya pagi ini tanpa berpikir panjang.
Sebuah jalan yang sama.
Hanya saja, malam nanti seseorang akan memutuskan mengambil jalan memutar tiga blok karena seorang temannya berkata jangan lewat sana. Ia mungkin tidak tahu persis apa yang akan terjadi jika tetap lewat. Ia hanya tahu ia tidak ingin mencari tahu.
Catatan terkait: Selembar Catatan di Brussel Bisa Mempengaruhi Satu Eropa


