Kamuflase Sempurna Korea Utara: Catatan dari Pyongyang

Ilustrasi/globerovers.com
Pyongyang punya jenis kesunyian yang aneh. Jalan-jalan lebarnya sering tampak terlalu lapang untuk ukuran ibu kota dengan jutaan penduduk. Gedung-gedung tinggi berdiri dalam warna pastel, taman dipangkas rapi, patung-patung raksasa menghadap lapangan, dan hampir tidak terlihat papan iklan komersial yang berebut perhatian seperti di Seoul, Tokyo, atau Jakarta. 

Ketika kereta metro datang, interior beberapa stasiunnya terasa seperti aula istana: marmer, lampu gantung, mosaik, tangga panjang yang turun jauh ke bawah tanah. Wisatawan asing yang datang ke Pyongyang selama bertahun-tahun memang diperlihatkan tempat-tempat semacam itu—Juche Tower, Arch of Triumph, Mansudae Hill, Kim Il Sung Square, metro. Rute tersebut bukan kebetulan.

Pyongyang adalah ibu kota, tetapi ia juga semacam ruang pamer.

Kesan itu mudah terasa ketika seseorang berdiri di Kim Il Sung Square. Lapangannya sangat besar, cukup untuk parade dan demonstrasi massal. Bangunan-bangunan pemerintahan mengelilinginya dengan susunan yang terasa terlalu teratur untuk disebut kebetulan. Di satu arah Taedong River mengalir, di arah lain berdiri gedung-gedung monumental. Kota tidak tumbuh di sana dengan cara yang sama seperti kota-kota tua Eropa yang berlapis-lapis, dengan toko baru menempel pada rumah tua dan restoran muncul di bekas bengkel. Pyongyang modern sebagian besar lahir dari kehancuran.

Perang Korea menghancurkan sebagian besar kota. Setelah gencatan senjata 1953, Pyongyang dibangun kembali dengan bantuan negara-negara blok sosialis, terutama Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur. Kim Il Sung memperoleh kesempatan yang jarang dimiliki seorang penguasa kota: membangun ibu kota hampir dari lembar kosong. Hasilnya adalah kota dengan jalan raya lebar, bangunan monumental, ruang terbuka besar, dan susunan yang sangat mudah dipakai untuk parade, upacara, dan demonstrasi. Kota yang lahir dari perang kemudian menjadi kota yang sangat sadar terhadap gambar.

Mansudae Hill menunjukkan bagaimana ruang kota bekerja sebagai simbol. Patung perunggu besar Kim Il Sung dan Kim Jong Il berdiri di sana, menghadap area yang digunakan untuk kunjungan resmi. Wisatawan asing biasanya diminta memberi penghormatan sesuai aturan setempat, dan kunjungan ke monumen seperti itu termasuk bagian dari rute wisata resmi.

Patung sebesar itu membutuhkan jarak. Orang harus mundur beberapa meter agar seluruh tubuh patung masuk ke dalam pandangan. Fotografi dan arsitektur bertemu di sana: ruang di depan monumen dibuat cukup luas supaya tubuh manusia tampak kecil.

Juche Tower bekerja dengan cara yang sedikit berbeda. Menara itu menjulang di tepi Taedong River, dengan bentuk seperti obor di puncaknya. Arch of Triumph memiliki skala yang sama-sama berlebihan. Hotel Ryugyong, bangunan berbentuk piramida setinggi 105 lantai yang selama puluhan tahun berdiri sebagai kerangka raksasa, menambahkan jenis kemegahan lain: sebuah proyek yang lama sekali belum selesai justru menjadi bagian dari wajah kota. Pada dekade terakhir, Pyongyang kembali dipenuhi proyek baru. Changjon Street, Mirae Scientists Street, Ryomyong Street, dan berbagai kompleks apartemen baru mengubah garis langit kota secara cepat.

Di sanalah Pyongyang jadi lebih rumit daripada karikatur kota yang seluruhnya beku dalam masa lalu.

Kim Jong Un mendorong pembangunan apartemen bertingkat tinggi dan kawasan baru. Pada 2021, pemerintah mengumumkan program pembangunan 50.000 apartemen di Pyongyang dalam lima tahun. Analisis citra satelit menunjukkan pembangunan berlangsung di beberapa kawasan, termasuk Sadong dan sekitar Sungai Pothong. Pada 2026, 38 North melaporkan bahwa media pemerintah menyatakan hampir 60.000 apartemen baru telah dibangun, dan pembangunan kawasan Hwasong memasuki tahap berikutnya.

Jadi kota itu tidak sekadar memelihara masa lalu. Ia terus memperbarui panggungnya.

Perubahan itu juga menunjukkan siapa yang mendapatkan perhatian negara. Penelitian 38 North pada 2026 mencatat bahwa investasi modernisasi—apartemen baru, fasilitas rekreasi, restoran, infrastruktur energi dan teknologi—sangat terkonsentrasi di Pyongyang dan kota-kota yang dianggap penting secara politik. Ketimpangan geografis semacam itu membuat pengalaman hidup di ibu kota berbeda dari banyak wilayah lain di Korea Utara.

Foto malam Pyongyang, karenanya, bisa menipu tanpa harus dipalsukan. Lampu-lampu gedung tinggi memang nyata. Jalan yang bersih memang nyata. Restoran dan pusat perbelanjaan tertentu memang digunakan oleh penduduk lokal. 38 North pernah mencatat perkembangan kehidupan komersial di ibu kota, termasuk restoran yang ramai oleh warga Korea Utara yang membayar dalam mata uang keras. Penulisnya juga menghubungkan pertumbuhan aktivitas tersebut dengan meningkatnya ketimpangan pendapatan dan munculnya kelompok masyarakat yang memperoleh keuntungan lebih besar dari ekonomi pasar yang berkembang.

Metro Pyongyang memberikan contoh yang lebih lucu sekaligus ganjil. Stasiun-stasiunnya sangat dalam, sebagian dibangun sebagai tempat perlindungan, dan interiornya dihiasi marmer, mosaik, lampu besar, serta tema-tema yang menghubungkan transportasi publik dengan sejarah revolusi. Selama bertahun-tahun wisatawan asing hanya diperbolehkan melihat sejumlah stasiun tertentu. Ketika akses diperluas pada 2014, beberapa perusahaan tur akhirnya dapat mengunjungi hampir seluruh jalur Chollima.

Di dalam kereta, kehidupan kota terlihat sebentar. Orang pulang kerja. Anak sekolah berdiri di dekat orang dewasa. Perempuan membawa tas. Rambut, sepatu, mantel, dan cara berpakaian, menunjukkan perubahan sosial yang tidak selalu cocok dengan gambaran Korea Utara yang seragam. Observasi NK News pada 2017 bahkan mencatat anak muda Pyongyang mulai mengenakan sepatu olahraga, jaket bergaya modern, tas dan aksesori yang lebih mengikuti tren, meskipun pakaian bergaya sosialis lama masih terlihat pada generasi yang lebih tua.

Detail semacam itu membuat kota terasa lebih manusiawi, tetapi sekaligus mengingatkan betapa sedikitnya kehidupan sehari-hari yang bisa dilihat oleh pengunjung luar. Wisatawan tidak bebas berkeliling dan bertanya kepada siapa saja. Interaksi dengan penduduk berlangsung dalam batas tertentu dan biasanya melalui pemandu. Seorang mantan diplomat yang pernah tinggal di Pyongyang menggambarkan kehidupan warga asing di sana sebagai kehidupan yang dibatasi dan terisolasi, dengan aturan mengenai pergerakan serta interaksi dengan masyarakat lokal.

Karena itu, persoalan Pyongyang bukan sekadar apakah gedung-gedungnya “asli” atau “palsu”. Pertanyaan semacam itu terlalu mudah. Gedungnya nyata. Apartemennya nyata. Orang yang makan di restoran juga nyata. Kekuasaan yang menentukan apa yang boleh dilihat pengunjung juga nyata.

Sebuah kota memang selalu memilih apa yang ditonjolkannya. Paris punya boulevard Haussmann dan Menara Eiffel. Washington punya National Mall. Roma punya Colosseum. Pyongyang mempunyai lapangan parade, patung pemimpin, menara ideologi, jalan lebar, dan apartemen yang sengaja dibuat mencolok. Perbedaannya terletak pada intensitas hubungan antara tata ruang dan pesan politik.

Bahkan transportasi pun ikut masuk ke dalam cerita itu. Pada 2026, jaringan trem Pyongyang masih melayani kota bersama bus listrik dan metro, sementara satu jalur trem di bagian timur kota mulai digantikan bus listrik karena persoalan infrastruktur dan biaya. Sistem transportasi tersebut bukan dekorasi; orang sungguhan memakainya. Hampir satu juta perjalanan penumpang per hari dilaporkan untuk jaringan bus, trem, dan trolleybus pada 2025.

Itulah bagian Pyongyang yang sering hilang ketika kota itu dipotret sebagai keanehan politik. Ibu kota itu tetap harus berfungsi. Orang harus pergi bekerja, anak-anak harus bersekolah, listrik harus dialirkan, trem harus diperbaiki, apartemen harus dihuni. Negara membutuhkan kota yang dapat dihuni sekaligus kota yang dapat ditampilkan.

Malam hari, dari tempat tertentu, lampu apartemen baru menyala satu per satu. Pyongyang tampak jauh lebih modern daripada bayangan banyak orang tentang Korea Utara. Di layar televisi nasional, citra kota yang terang itu juga dapat dilihat oleh orang yang tinggal jauh dari ibu kota—termasuk mereka yang menghadapi pasokan listrik yang jauh lebih terbatas. 38 North mencatat kontras tersebut secara langsung: desa dan kota kecil di berbagai wilayah dapat mengalami kekurangan listrik yang berat, sementara Pyongyang tampil terang dengan gedung-gedung baru dan lampu neon.

Seseorang mungkin berdiri di sebuah balkon apartemen tinggi, memandang lampu kota. Beberapa kilometer jauhnya, kamera televisi sedang menyorot gedung yang sama dari sudut lain. Untuk penghuni apartemen, itu rumah. Untuk kamera negara, itu juga gambar. Untuk wisatawan, itu pemandangan.

Tiga hal tersebut bisa terjadi pada bangunan yang sama, pada malam yang sama, tanpa perlu saling membatalkan.

Di bawahnya sebuah bus listrik bergerak pelan melewati jalan yang lebar. Lampu-lampu apartemen menyala. Poster dan slogan tetap menempel pada dinding. Di kejauhan, puncak Juche Tower terlihat seperti nyala kecil di atas Taedong River. Seorang penumpang turun, menutup pintu bus, lalu berjalan pulang membawa kantong belanja.


Related

Geografi 3787433528463548854

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item