Masaji Inoshita, Sosok yang Rumit dalam Perang Dunia II
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/masaji-inoshita-sosok-yang-rumit-dalam.html
![]() |
| Ilustrasi/gricnews.org |
Masaji Inoshita masuk ke Perang Dunia II melalui pintu yang sangat aneh: sebuah kamp interniran. Beberapa tahun kemudian ia justru mengenakan seragam Amerika, berlayar ribuan kilometer mengitari Pasifik, menerjemahkan dokumen yang diambil kapal selam, belajar bahasa India dari pelayan pribadinya, lalu dikirim ke Burma untuk menginterogasi tentara Jepang yang tertangkap. Sulit membuat perjalanan hidup seperti itu terdengar masuk akal kalau kita hanya mengenal perang dari peta dan daftar pertempuran.
Di New Delhi, Masaji Inoshita mula-mula mendapat pekerjaan yang nyaris terasa seperti lelucon. Ia dan rekan-rekannya baru tiba setelah perjalanan panjang dari Amerika, ditempatkan dalam sebuah kamp yang baru dibangun, diberi seragam khaki, sepatu tambahan, dan—yang paling tidak biasa—masing-masing mendapat seorang pelayan pribadi. Mereka harus selalu tampil rapi di hadapan perwira Inggris.
Inoshita, seorang pemuda Jepang-Amerika dari California yang beberapa waktu sebelumnya hidup di kamp interniran, mulai berbicara dengan pelayannya, seorang lelaki India. Lelaki India itu ingin belajar bahasa Inggris. Inoshita mengajarinya, sambil ia belajar sekitar sepuluh kata bahasa setempat setiap hari.
Perang, rupanya, bisa membawa seseorang dari satu dunia ke dunia lain tanpa memberinya kesempatan untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.
Inoshita lahir pada 9 Desember 1919 dan tumbuh dalam keluarga petani Jepang-Amerika di California. Ayahnya, Maruju Inoshita, datang dari Jepang pada 1900; ibunya tiba pada 1916 sebagai picture bride. Keluarga mereka berpindah dari Madera ke Guadalupe dan kemudian menetap di kawasan Santa Maria. Ketika ayahnya terkena stroke, Masaji yang masih muda meninggalkan sekolah dan mengambil alih pekerjaan pertanian keluarga.
Pearl Harbor mengubah semuanya. Pada Desember 1941, FBI menangkap ayahnya sebagai enemy alien. Rekening bank keluarga dibekukan. Pergerakan mereka dibatasi. Senjata, radio gelombang pendek, kamera, dan benda-benda lain disita. Ketika pengusiran dimulai, keluarga Inoshita harus menyingkirkan hampir seluruh kehidupan pertanian yang telah mereka bangun: ayam, kelinci, kuda, truk, traktor, mobil, mesin pertanian, hasil panen.
Kuda-kuda mereka yang berharga harus dijual. Masaji kemudian mengingat pembuangan kuda-kuda itu sebagai salah satu pengalaman paling traumatis dalam seluruh proses tersebut. Seorang teman keluarga kulit putih menyelamatkan sebagian peralatan dengan menawarkan gudangnya sebagai tempat penyimpanan.
Mereka dibawa ke Tulare Assembly Center, sebuah fasilitas penahanan yang menggunakan bekas kandang kuda, kemudian dipindahkan ke Gila River War Relocation Center di Arizona. Di sana Inoshita memasak nasi dan memetik kapas. Hidupnya telah menyusut drastis: dari mengurus pertanian keluarga menjadi seorang tahanan yang bekerja untuk bertahan hidup.
Kemudian Angkatan Darat Amerika membutuhkan orang yang dapat membaca bahasa Jepang.
Keputusan yang diambil Inoshita pada November 1942 terasa ganjil kalau dilihat dari tempat ia berdiri. Pemerintah Amerika baru saja memenjarakan keluarganya karena keturunan Jepang, tetapi militer Amerika juga membutuhkan orang Jepang-Amerika untuk pekerjaan intelijen. Inoshita menjadi salah satu dari 29 sukarelawan dari Gila River yang masuk sekolah bahasa militer. Ia dikirim ke Camp Savage, Minnesota, untuk belajar di Military Intelligence Service Language School, kemudian menjalani pelatihan militer di Camp Shelby, Mississippi. Ia lulus sebagai teknisi tingkat lima.
Di sanalah ironi hidupnya mulai terasa kasar. Keluarganya masih berada di balik kawat, sementara Masaji mengenakan seragam negara yang menahan mereka. Di kamp, keputusannya masuk Angkatan Darat bahkan menimbulkan permusuhan dari sebagian komunitas Jepang-Amerika. Ia sendiri menjelaskan alasannya dengan sederhana: Amerika adalah negaranya, dan ia merasa perlu melakukan sesuatu untuk menunjukkan kesetiaannya.
Perjalanan menuju Asia tidak berjalan seperti garis lurus di peta. Setelah pelatihan, kelompoknya sempat tertahan, karena kapal Liberty yang akan membawa mereka belum siap. Ketika kapal akhirnya berangkat, mereka bergerak menuju Hawaii, tetapi kemudian membelok ke selatan menuju Selandia Baru. Kapal menghadapi badai berat di sekitar Australia. Udara semakin dingin sehingga para penumpang harus mengenakan pakaian tambahan.
Pelabuhan berikutnya adalah Fremantle, Australia Barat—sebuah pangkalan Angkatan Laut Amerika yang juga digunakan sebagai pangkalan kapal selam. Di sana Inoshita dan para penerjemah mengerjakan dokumen yang dibawa pulang oleh kapal-kapal selam Amerika. Banyak dokumen ternyata relatif mudah diterjemahkan.
Perjalanan belum selesai. Sumber lain dari kesaksian Inoshita mencatat bahwa mereka kemudian menuju Ceylon, sebagaimana Sri Lanka disebut pada masa itu, dan singgah di Trincomalee. Mereka menghabiskan hampir seminggu menerjemahkan dokumen untuk Viceroy of India.
Dari sana mereka menuju India dan ditempatkan lebih dulu di Camp Bush sebelum dikirim dengan kereta api ke New Delhi. Inoshita mengingat perjalanan kereta itu sebagai perjalanan yang lambat dan buruk. Orang-orang bahkan menumpang di atas atap gerbong. Di sekitar stasiun, ia melihat orang miskin meminta pemberian. Semua itu terjadi setelah perjalanan laut yang melewati Hawaii, Selandia Baru, Australia, dan Ceylon. Seorang pemuda California yang sebelumnya hidup di kamp interniran sekarang duduk dalam kereta militer Inggris di India.
New Delhi memberinya waktu istirahat sekitar sepuluh hari. Kemudian datang pemeriksaan yang mengubah arah tugasnya. Para penerjemah dibawa ke sebuah rumah sakit militer India, tempat 45 tawanan Jepang dirawat. Sebagian terluka parah. Inoshita melihat luka-luka yang ditutup dengan perban dan tape, dengan serangga memenuhi jaringan yang membusuk di bawahnya. Bau busuknya begitu kuat sehingga beberapa orang tidak sanggup menahan muntah. Mereka berada di sana selama berjam-jam. Para perwira Inggris senang karena informasi yang mereka peroleh dari para tawanan sangat berharga.
Kapten Inggris yang mengawasi kelompok itu memperhatikan kebiasaan Inoshita mempelajari bahasa setempat. Ia mengujinya. Kemampuan itu ternyata berguna. Inoshita kemudian dipilih untuk dikirim ke Burma bersama seorang penerjemah lain, Sersan Edwin Sasaki. Mereka bergerak menuju daerah operasi dengan kereta, kemudian kapal sungai yang sesak luar biasa. Kapal yang dirancang untuk sekitar 150 orang dipenuhi hampir 300 penumpang. Orang-orang berdiri berhimpitan; permukaan air hanya beberapa inci di bawah garis lambung.
Pekerjaan di Burma jauh lebih buruk daripada menerjemahkan dokumen di Fremantle.
Inoshita bekerja di bawah perwira Inggris seperti Mayor Thompson dan Kapten Burless. Ia menginterogasi tawanan Jepang dan menerjemahkan informasi militer. Kadang ia dibawa kepada mayat tentara Jepang dan diperintahkan mencari informasi dari tubuh tersebut. Ia mencoba mencari nama pemilik tubuh, sebab hampir selalu terdapat sesuatu tentang keluarga mereka. Ia mengatakan dalam kesaksiannya bahwa ia membenci pekerjaan itu, tetapi tetap melakukannya sebaik mungkin. Ketika pasukan Inggris melihat betapa berat pekerjaan tersebut, seorang tentara India dilatih untuk memeriksa mayat.
Inoshita tidak selalu bekerja dengan cara yang disukai atasannya. Ia bisa menginterogasi seorang tawanan selama dua jam tanpa menulis satu baris pun. Seorang letnan kolonel Inggris pernah datang untuk memeriksa prosedur dan menganggap cara kerjanya tidak sesuai aturan. Inoshita tidak terlalu peduli. Ia merasa mampu mengenali informasi yang penting dan baru kemudian menyampaikannya. Sesekali ia pergi ke klub perwira untuk memberikan hasil intelijen.
Ia juga melihat kehancuran tentara Jepang dari jarak yang sangat dekat. Banyak prajurit menderita malaria. Persediaan makanan dan obat-obatan semakin buruk. Menurut penilaian Inoshita bertahun-tahun kemudian, malaria merupakan salah satu faktor penting dalam keruntuhan pasukan Jepang di Burma. Tentara, yang sebelumnya bersumpah bertempur sampai mati, mulai kehilangan kemampuan untuk melanjutkan perang. Beberapa bahkan menggunakan granat yang diberikan kepada mereka untuk bunuh diri. Sebagian lainnya memakai granat untuk menangkap ikan.
Perang yang sebelumnya muncul dalam bentuk Pearl Harbor, kamp interniran, kapal selam, dan dokumen rahasia, kini berakhir di tubuh manusia yang sakit, kelaparan, dan ketakutan.
Menjelang akhir perang, perwira Inggris sempat mengatakan bahwa Inoshita dan orang-orang seperti dirinya mungkin harus tinggal di Burma selama beberapa tahun untuk menangani persoalan tawanan Jepang yang belum selesai.
Situasi politik India sendiri sedang berubah cepat; pemerintahan Inggris sedang menuju akhir kekuasaannya di sana. Perintah evakuasi kemudian datang dengan tergesa-gesa. Sebuah pesawat menjemput Inoshita dan rekannya, dan membawa mereka ke China. Mereka terbang melintasi Hump, jalur udara berbahaya di atas Himalaya yang digunakan untuk memasok pasukan Tiongkok.
Karier militernya masih berlanjut. Setelah perang, ia ikut menangani penyerahan pasukan Jepang, kemudian sampai ke Okinawa dan Jepang. Pada 1945 ia dikirim ke Hiroshima untuk menilai kerusakan akibat bom atom. Setelah itu ia ingin pulang. Ia akhirnya diberhentikan dari dinas pada awal Januari 1946.
Kisah Inoshita terasa ganjil, karena ia tidak pernah mendapatkan satu identitas sederhana yang bisa dipasang rapi di bawah fotonya. Ia adalah anak petani Jepang yang ayahnya ditangkap FBI. Ia adalah tahanan di Gila River. Ia adalah tentara Amerika. Ia penerjemah bahasa Jepang. Ia bekerja untuk perwira Inggris. Ia belajar bahasa India dari seorang pelayan. Ia menginterogasi tentara Jepang di Burma. Ia menerjemahkan dokumen dari kapal selam Amerika. Ia kemudian terbang ke China, ikut menyaksikan Jepang menyerah, dan berdiri di Hiroshima.
Ketika pulang, ia tidak menjadi tokoh terkenal. Ia bekerja sebagai buruh tani migran selama sekitar dua setengah tahun, kemudian membeli pertanian sendiri. Ia menikah dengan Betty pada 1949 dan membesarkan tiga anak. Pada usia 72 tahun ia masih bekerja dan bahkan pernah dipecat. Bertahun-tahun kemudian, ketika sudah lanjut usia, ia kembali menceritakan pengalaman kamp interniran dan perang kepada orang-orang yang bersedia mendengarkan.
Di antara semua perjalanan itu, mungkin bagian paling ganjil tetap yang paling sederhana: seorang pemuda yang negaranya sendiri curiga kepadanya karena wajah dan nama keluarganya, lalu negara yang sama membutuhkannya karena ia mampu membaca apa yang ditulis musuhnya. Setelah berbulan-bulan berlayar dan berpindah-pindah, ia duduk di New Delhi, mengenakan seragam Amerika, berbicara dengan seorang pelayan India, dan menghafalkan sepuluh kata bahasa setempat setiap hari. Besok ia akan dikirim ke Burma.
Catatan terkait: Catatan Perjalanan Seorang Tentara di Akhir Perang Dunia II


