Nick Carter, Novel Mata-mata yang Pernah Merajai Pasar Buku

Ilustrasi/carousell.com
Nick Carter mungkin salah satu ironi terbesar dalam sejarah bacaan populer Indonesia. Nama itu terdengar asing, kebarat-baratan, berbau detektif dan pistol otomatis. Sampulnya menampilkan perempuan bergaun minim, lelaki berahang keras, senapan dengan moncong berasap, ledakan, mobil sport, atau siluet pembunuh yang mengintai dari gang gelap. Semua elemen dirancang untuk satu tujuan sederhana: membuat seseorang berhenti di depan kios buku, mengeluarkan uang receh, lalu membawa pulang petualangan yang dijanjikan sampulnya.

Masalahnya, Nick Carter bukan seorang penulis.

Banyak pembaca Indonesia dulu mengira Nick Carter adalah sosok nyata, semacam Agatha Christie versi laki-laki atau Ian Fleming yang lebih liar. Padahal Nick Carter adalah karakter fiksi yang lahir di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19, lalu berkembang menjadi sebuah pabrik sastra. Nama itu menjadi merek. Di belakangnya bekerja puluhan, bahkan ratusan penulis bayangan selama lebih dari satu abad. 

Jika Fredy S menghasilkan ratusan novel roman dan Tara Zagita menghasilkan ratusan novel misteri-horor, "Nick Carter" menghasilkan ribuan cerita karena ia pada dasarnya adalah industri yang menyamar sebagai manusia.

Karier Nick Carter dimulai jauh sebelum James Bond lahir. Tokoh itu pertama kali muncul pada 1886 dalam serial dime novel Amerika, bacaan murah yang dicetak di kertas berkualitas rendah dan dijual dengan harga beberapa sen. Penciptanya sering dikaitkan dengan penulis produktif bernama John R. Coryell, meskipun kemudian banyak tangan lain ikut mengembangkan karakter tersebut. 

Nick Carter adalah detektif jenius, ahli penyamaran, petarung ulung, dan pemecah kasus yang nyaris tidak pernah gagal. Formula yang sangat sederhana. Pembaca menyukainya. Penerbit melihat uang mengalir.

Begitu formula bekerja, mesin mulai berjalan.

Satu hal yang sering diremehkan ketika orang membicarakan sastra populer adalah betapa brutalnya ritme produksinya. Kita terbiasa mengagumi novelis yang menerbitkan satu buku setiap dua atau tiga tahun. Dunia dime novel dan pulp magazine beroperasi dengan logika berbeda. Mereka harus memberi makan pasar setiap minggu. Setiap bulan. Terus-menerus. Pembaca yang selesai membaca petualangan kemarin harus menemukan petualangan baru besok. Jika tidak, mereka pindah ke karakter lain. Nick Carter menjadi salah satu korban sekaligus pemenang dari logika itu.

Puluhan penulis bekerja atas nama yang sama. Sebagian besar pembaca tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya menulis cerita yang mereka baca. Nama individu penulis jadi tidak penting. Yang penting adalah merek Nick Carter tetap hidup. Tokoh itu melampaui penciptanya sendiri. Ada sesuatu yang agak menyeramkan dalam model semacam itu. Seorang karakter fiksi berhasil mencapai keabadian karena orang-orang nyata di belakangnya menghilang.

Ketika serial mata-mata Nick Carter memasuki era Perang Dingin pada 1960-an, transformasinya jadi lebih ekstrem. Nick Carter berubah dari detektif menjadi agen rahasia internasional. Judul serinya dikenal sebagai Nick Carter: Killmaster. Dunia yang ia masuki penuh pembunuh bayaran, ilmuwan gila, diktator, organisasi kriminal internasional, dan perempuan-perempuan cantik yang hampir selalu terlibat dalam konspirasi. James Bond sedang berjaya di bioskop, dan pasar menginginkan lebih banyak cerita semacam itu.

Di Indonesia, terutama pada 1970-an hingga 1990-an, buku-buku Nick Carter menemukan rumah kedua yang tidak pernah direncanakan oleh penerbit Amerika.

Kios buku bekas di Pasar Senen, Pasar Johar Semarang, Pasar Bringharjo Yogyakarta, terminal-terminal bus, lapak kaki lima dekat stasiun kereta, semuanya pernah jadi habitat alami novel-novel semacam itu. Ukurannya kecil. Mudah dimasukkan ke tas sekolah. Harganya murah. Kertasnya mulai menguning beberapa tahun setelah dicetak. Aroma khas pulp tua bercampur debu sering menempel di halaman-halamannya. Orang yang pernah membaca buku-buku itu biasanya masih ingat sensasi fisiknya: ujung kertas yang kasar di jari, tinta yang sedikit luntur, sampul laminasi yang mulai terkelupas.

Saya selalu menganggap sampul Nick Carter lebih jujur daripada isinya. Sampulnya terang-terangan menjual fantasi. Isinya sering kali hanya variasi dari formula yang sama. Nick datang ke suatu negara. Musuh muncul. Perempuan misterius hadir. Pengkhianatan terjadi. Baku tembak meledak. Nick menang. Buku selesai. Buku berikutnya dimulai dengan pola serupa.

Anehnya, justru pengulangan itu yang membuat pembaca setia. Pembaca Nick Carter tidak sedang mencari revolusi sastra. Mereka mencari rasa yang sudah dikenal. Persis seperti orang yang membeli gorengan di warung yang sama selama bertahun-tahun. Mereka tahu seperti apa rasanya. Mereka tahu apa yang akan didapat. Kepuasan berasal dari pengulangan yang berhasil, bukan dari kejutan.

Sebagian kritikus sastra memandang rendah bacaan seperti itu. Mereka menyebutnya sastra murahan, bacaan stasiun, atau literatur kelas dua. Penilaian semacam itu sering mengabaikan satu fakta sederhana: jutaan orang membaca. Jutaan orang rela menghabiskan waktu dan uang untuk cerita-cerita tersebut. Sulit menganggap sebuah fenomena budaya sebesar itu tidak penting.

Lihat saja jejaknya di Indonesia. Banyak pembaca yang kemudian menjadi dosen, wartawan, pegawai negeri, pengusaha, atau bahkan sastrawan serius pernah melewati fase membaca Nick Carter. Mereka mungkin tidak mengakuinya dengan bangga. Nick Carter bukan nama yang prestisius untuk disebut dalam diskusi sastra. Namun kios-kios buku di Indonesia pernah penuh oleh petualangannya. Itu fakta yang tidak bisa dihapus oleh teori sastra mana pun.

Saya kadang merasa sejarah membaca suatu bangsa lebih jujur terlihat di pasar loak daripada di perpustakaan nasional.

Di perpustakaan, kita menemukan buku-buku yang dianggap penting. Di pasar loak, kita menemukan buku-buku yang benar-benar dibaca.

Karena itu, Nick Carter menarik. Ia tidak penting dalam arti akademik yang megah. Ia tidak mengubah filsafat. Ia tidak mengubah sains. Ia tidak melahirkan revolusi politik. Pengaruhnya bergerak di wilayah yang lebih sederhana: mengisi sore yang panjang, menemani perjalanan kereta, mengusir bosan di pos ronda, memberi hiburan bagi orang yang tidak punya banyak pilihan hiburan lain.

Nasib Nick Carter akhirnya cukup ironis. Televisi berkembang. Film aksi membanjir. Video rental muncul. Internet datang. Dunia yang dulu membutuhkan novel mata-mata murah perlahan berubah. Nick Carter tetap hidup sebagai karakter, tetapi auranya memudar. Generasi baru lebih mengenal Jason Bourne, Ethan Hunt, Jack Reacher, atau tokoh-tokoh lain yang lahir dalam ekosistem media berbeda. 

Sesekali saya masih menemukan novel Nick Carter di lapak buku bekas. Sampulnya sudah kusam. Warna merah dan kuning yang dulu mencolok berubah jadi pucat. Lem jilidnya rapuh. Halamannya berbau gudang tua. Buku itu terasa ringan di tangan, hampir terlalu ringan untuk membawa sejarah sepanjang itu.

Di rak yang sama biasanya terjepit novel Fredy S, Tara Zagita, Abdullah Harahap, Marga T, atau serial-sserial silat yang sampulnya sudah pecah di bagian punggung. Mereka seperti penghuni sebuah zaman yang telah bubar, ketika hiburan datang dalam bentuk kertas murah yang dibaca sampai larut malam di bawah lampu 10 watt, sementara suara jangkrik terdengar dari halaman belakang dan halaman-halaman menguning terus dibalik sampai ujung cerita, meskipun pembacanya sebenarnya sudah tahu siapa yang akan menang.


Related

Buku 3664459898114085225

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item