Kisah Bernard Nutter dan Kapal yang Berlubang karena Torpedo
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/kisah-bernard-nutter-dan-kapal-yang.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Bernard Nutter mempunyai cara yang sangat tidak heroik untuk menceritakan perang.
Ketika pewawancara bertanya tentang hidup di kapal, ia membicarakan makanan. Ia membicarakan ranjang. Ia membicarakan laundry. Marinir di kapal, katanya, masih bisa mencuci pakaian mereka sendiri, memasukkannya ke mesin press, kemudian kembali ke tempat masing-masing. Dibandingkan dengan “ground pounder” yang hidup di lumpur, katanya, kehidupan mereka cukup enak.
Kemudian ia menyebut bagian yang lain. “Of course, there was a heck of a lot of war out there.” Kalimat itu mungkin lebih tepat untuk memahami Bernard Nutter daripada daftar operasi Angkatan Laut Pasifik.
Nutter bukan Chester Nimitz. Ia bukan William Halsey. Ia tidak membuat keputusan tentang armada. Ia seorang pemuda dari Wilmington, Delaware, yang masuk Marine Corps setelah serangan Pearl Harbor, dilatih sebagai penembak antipesawat, kemudian ditempatkan di kapal induk ringan USS Independence.
Library of Congress menyimpan kesaksiannya dalam Veterans History Project, sebuah rekaman wawancara yang dilakukan Thomas J. Healy dan dikumpulkan melalui proyek Delaware “Voices of World War II”. Catatan resmi VHP mencantumkan masa dinas Nutter 1942–1944, pangkat tertinggi Private First Class, dan USS Independence sebagai kapal tempat ia bertugas.
Ia lahir pada 15 Juni 1924 di Wilmington. Dalam wawancara, ia mengingat alamat kelahirannya dengan sangat spesifik: 3515½ Madison Street. Ia bahkan menjelaskan bahwa ia dilahirkan di rumah, bukan rumah sakit. Detail seperti itu terasa remeh ketika perang sedang dibicarakan. Justru detail semacam itulah yang membuat seorang prajurit kembali menjadi manusia dengan alamat, rumah, keluarga, dan kehidupan sebelum seragam.
Setelah masuk Marine Corps, Nutter dikirim ke Parris Island. Pendidikan formalnya menentukan arah berikutnya. Ia dikirim ke Norfolk Navy Yard untuk sekolah meriam dan dilatih menggunakan 40-millimeter gun serta Mark 14 sight. Setelah lulus, ia ditugaskan ke Philadelphia Navy Yard dan naik ke USS Independence, kapal yang baru saja selesai dikonversi dari lambung kapal penjelajah menjadi light aircraft carrier.
Ia menggambarkan prosesnya dengan bahasa teknis yang tidak berusaha terdengar gagah: mereka memasang persenjataan, mengganti senapan mesin .50 caliber dengan meriam 20-millimeter, menempatkan mount tertentu, lalu melakukan pelayaran percobaan ke Trinidad. Di perjalanan, mereka melakukan latihan menembak sasaran. Nutter belajar mengoperasikan alat bidik baru.
Perang, dari sudut pandangnya, dimulai dengan sekolah meriam.
Kemudian kapal berlayar menuju Kanal Panama, San Diego, dan Pasifik. Independence bukan kapal yang duduk diam di satu tempat. Kapal tersebut beroperasi dalam kampanye Kepulauan Gilbert, kemudian menjalani perbaikan besar setelah terkena torpedo Jepang, kembali ke Pasifik pada 1944, dan berpartisipasi dalam operasi Palaus, Filipina, Okinawa, serta Battle of Leyte Gulf.
Nama-nama itu tampak besar jika ditulis dalam daftar. Di atas kapal, semuanya lebih dekat. Mount 7. Battle station. 40 millimeter. 20 millimeter. Brig. Laundry. Racks. Makanan.
Nutter bahkan menjelaskan bahwa sekitar 75 Marinir berada di Independence. Mereka bukan sekadar kru meriam. Marinir juga berfungsi sebagai polisi kapal: menjaga brig, menangani pelaut yang membuat masalah di darat, dan mengawasi tahanan. Brig berada jauh di bagian bawah kapal.
Mereka hidup di dalam mesin perang yang juga merupakan tempat tinggal.
Pada 20 November 1943, Independence berada di sekitar Tarawa ketika pesawat Jepang menyerang. Laporan resmi Bureau of Ships mencatat bahwa kapal terkena satu torpedo udara di sisi kanan pada pukul 18.07. Ledakan terjadi dekat bagian belakang ruang mesin. Air masuk ke banyak ruang, kapal sempat miring hingga sekitar 12 derajat, sebelum kembali stabil pada kemiringan yang lebih kecil. Lubang pada lambung dan blister mencapai kira-kira 40 kaki panjangnya dan 20 kaki mengikuti lingkar lambung.
Angka-angka tersebut sangat rapi. 40 kaki. 20 kaki. 12 derajat. 2.900 ton air banjir.
Dokumen Angkatan Laut memang harus bekerja dengan angka. Kapal yang rusak harus dihitung agar dapat diperbaiki. Stabilitas harus dihitung. Berat air harus dihitung. Ruang yang tergenang harus dicatat.
Nutter mengingatnya secara berbeda.
Dalam wawancara puluhan tahun kemudian, ia mengatakan lubang di kapal kira-kira berukuran “80 kali 60”, kemudian menambahkan gambaran yang lebih mudah dipahami, “You could drive a truck through it.”
Ia juga mengingat sekitar delapan sampai sepuluh orang tewas dalam torpedo tersebut, meskipun ia sendiri meminta agar jumlah itu tidak dikutip terlalu pasti. Catatan lain tentang serangan tersebut menunjukkan korban yang lebih besar; sumber sejarah kapal mencatat 12 orang tewas dan lima hilang akibat serangan 20 November.
Di sini memori dan arsip mulai bergesekan. Angka resmi mengatakan satu hal. Seorang lelaki tua mengatakan, pada dasarnya, lubangnya sebesar truk. Saya lebih mudah memahami perang dari kalimat kedua.
Torpedo bukan pengalaman yang berlangsung seperti adegan film. Ledakan datang melalui struktur kapal. Lantai berguncang. Logam berubah bentuk. Air laut masuk ke tempat yang beberapa detik sebelumnya merupakan ruang tertutup. Peralatan yang berat bisa terlempar. Orang yang sedang berdiri bisa kehilangan pijakan.
Nutter mengingat satu gun tub terlempar melintasi dek akibat ledakan. Seorang pria bahkan sempat melompat dari gun tub yang bergerak itu, tetapi kemudian meninggal akibat cedera dan concussion.
Benda-benda di kapal memiliki berat yang sangat nyata. Meriam punya berat. Pintu punya berat. Air punya berat. Tubuh manusia punya berat.
Dalam sejarah perang, semua itu sering menghilang setelah peristiwa diberi nama. “USS Independence torpedoed off Tarawa” terdengar seperti satu baris kronologi. Baris itu tidak memberitahu bagaimana rasanya berdiri di atas kapal yang tiba-tiba berubah bentuk.
Nutter juga tidak mengubah ceritanya menjadi legenda pribadi. Ketika pewawancara menyinggung siapa yang menjadi pahlawan di antara saudara-saudaranya, ia menjawab bahwa saudaranya, Bill, adalah pahlawan.
“Saya cuma pergi ke sana dan melakukan pekerjaan saya.” Kalimat tersebut terdengar hampir malas. Saya justru mempercayainya.
Kehidupan setelah ledakan tidak berhenti. Kapal harus diperbaiki. Kru harus bertahan. Operasi harus dilanjutkan. Independence kemudian kembali ke Amerika Serikat untuk perbaikan besar dan baru kembali ke Pasifik pada Juli 1944. Setelah itu kapal menjalani operasi sebagai night carrier dan ikut dalam serangkaian operasi sampai 1945.
Nutter mengingat bagian lain dari kehidupan kapal yang jarang masuk sejarah. Makanan biasanya bagus.
Ketika masuk wilayah tempur, makanan berubah karena persediaan semakin terbatas. Saat operasi Okinawa, ia mengatakan mereka bahkan sampai makan K-rations. Tempat tidur tetap disebut racks. Pakaian dicuci di laundry kapal. Marinir melakukan pekerjaan laundry mereka sendiri.
Semua itu terdengar seperti detail yang tidak penting sampai seseorang menyadari bahwa manusia tidak bisa hidup hanya dari pertempuran.
Seorang pelaut tetap perlu makan. Pakaian tetap bau. Tempat tidur tetap harus digunakan. Kapal yang sedang mengejar Jepang tetap mempunyai orang yang mungkin mengeluh tentang makanan.
Perang tidak menghentikan kebiasaan kecil. Ia memaksa kebiasaan itu hidup berdampingan dengan kemungkinan mati.
Nutter juga mengingat bagaimana berita perang sampai kepada mereka. Ia mengatakan mereka mengetahui berita penting melalui surat kabar kapal dan komunikasi Angkatan Laut. Surat kepada keluarga dibatasi; mereka tidak boleh menulis semua hal yang terjadi. Ia dan saudara-saudaranya belajar membaca “di antara baris” surat masing-masing. Kalimat yang tampak biasa mungkin menyimpan informasi yang tidak boleh ditulis terang-terangan.
Ada bentuk keintiman yang aneh di sana. Sensor militer mencoba membatasi informasi, sementara keluarga mencoba membaca lebih banyak daripada yang ditulis.
Nutter sendiri masih muda. Ia masuk Marine Corps setelah sekolah menengah, dan ketika diwawancarai bertahun-tahun kemudian masih mengingat bagaimana rasanya menjadi anak muda yang tiba-tiba berada di dalam kapal perang.
Ketika Jepang menyerah, ia berada di lepas pantai Jepang. Setelah penandatanganan kapitulasi di USS Missouri pada 2 September 1945, Independence termasuk kapal yang masih berada di kawasan tersebut sebelum kemudian kembali. Nutter mengatakan mereka berhenti di Pearl Harbor dalam perjalanan pulang. Ia akhirnya tiba di Bremerton, Washington, kemudian menempuh perjalanan dengan troop train menuju Bainbridge, Maryland. Saudara lelakinya, Walter, menjemputnya dan membawanya pulang.
Pulang.
Kata yang sangat sederhana untuk perjalanan sejauh itu.
USS Independence sekarang dapat dibaca melalui laporan teknis, sejarah kapal, foto, dan arsip. Kita bisa mengetahui kapan ia diluncurkan, kapan ditugaskan, kapan terkena torpedo, berapa banyak ruang yang tergenang, kapan diperbaiki, dan operasi apa saja yang diikutinya.
Bernard Nutter memberi kita versi yang lebih berantakan. Ia ingat makanan. Ia ingat mount 7. Ia ingat laundry. Ia ingat brig di bagian bawah kapal. Ia ingat bagaimana kapal terkena torpedo. Ia ingat orang yang tewas. Ia lupa beberapa angka dan mengakuinya.
Itu justru membuat kesaksiannya terasa lebih dekat pada pengalaman perang daripada kronologi yang sempurna. Ingatan manusia tidak bekerja seperti war diary. Ia menyimpan satu detail dengan sangat tajam, membuang detail lain, mencampur urutan, lalu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu yang telah terkubur puluhan tahun.
Ketika ditanya tentang kehidupan di kapal, Nutter tidak berbicara seperti orang yang ingin dikenang. Ia berbicara seperti orang yang pernah tinggal di sana. Kapal itu mempunyai tempat tidur. Kapal itu mempunyai dapur. Kapal itu mempunyai laundry. Kapal itu mempunyai penjara. Kapal itu mempunyai meriam.
Kapal itu juga mempunyai lubang yang, menurut ingatan seorang Marinir yang berada di sana, cukup besar untuk dilewati truk.
Peta Pasifik tidak mencantumkan ukuran lubang tersebut.
Catatan terkait: Medali Perang dalam Kotak dan Sebuah Tank yang Meledak
.jpg)

