Neraka Kabut di Tanah Bara: Catatan dari Kalimantan

Neraka Kabut di Tanah Bara: Catatan dari Kalimantan
Ilustrasi milik BSM
Langit di sebagian Kalimantan Tengah berubah jingga ketika seharusnya matahari masih menerangi siang. Pada September 2026, jarak pandang di sejumlah wilayah dilaporkan tinggal sekitar 500 meter. Gunung Mas, Murung Raya, Kotawaringin Timur, Kapuas, dan sejumlah daerah lain, menghadapi kualitas udara yang masuk kategori berbahaya. 

Orang-orang masih harus bekerja, kendaraan masih perlu melintas, anak-anak masih memiliki kebutuhan sekolah. Hanya saja, udara yang mereka hirup telah berubah menjadi sesuatu yang dapat merusak paru-paru. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 142.000 titik panas di Kalimantan Tengah sejak Januari hingga 19 September, dengan sekitar 3.800 kejadian kebakaran hutan dan lahan. Angka titik panas merupakan hasil pemantauan satelit, bukan berarti setiap titik adalah kebakaran terpisah, tetapi skalanya cukup untuk menunjukkan betapa berat pekerjaan yang sedang dihadapi petugas. 

Kabut asap sering dibicarakan sebagai gangguan musiman. Orang menunggu hujan, pemerintah mengerahkan helikopter, petugas menyiram lahan, kemudian perhatian publik beralih ke persoalan lain ketika udara mulai membaik. Siklus pemberitaan itu membuat kebakaran seolah-olah memiliki masa hidup pendek: muncul, menjadi berita, reda, selesai. Padahal, tanah yang terbakar tidak selalu berhenti membara ketika nyala api di permukaannya menghilang.

Kawasan gambut menyimpan persoalan yang jauh lebih sulit. Gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik selama waktu yang panjang dalam kondisi basah. Ketika lahan dikeringkan, terutama melalui kanal-kanal drainase, permukaannya jadi lebih rentan terbakar. Api dapat merambat ke lapisan organik di bawah permukaan, menghasilkan asap yang terus keluar meskipun kobaran tidak terlihat jelas. 

Petugas harus melakukan pembasahan dan pendinginan berulang, terkadang menggunakan peralatan khusus untuk menemukan bara yang tersembunyi. Hujan pun belum tentu langsung menyelesaikan persoalan jika air yang turun tidak cukup untuk membasahi lapisan gambut yang mengering.

Tanah yang terlihat tenang dapat menyimpan panas. Itulah bagian dari kebakaran Kalimantan yang jarang masuk ke dalam foto dramatis: tidak selalu ada pohon menjulang dengan api setinggi rumah, tidak selalu ada dinding api yang bergerak cepat. Kadang yang tampak hanya asap tipis dari tanah hitam, lubang kecil, dan petugas yang harus memastikan bahwa bara benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi. Kesalahan beberapa meter dalam menentukan titik pembasahan bisa berarti pekerjaan yang sama harus diulang.

Kebakaran 2026 memperlihatkan bahwa masalah ini belum selesai. Pada akhir September, BNPB masih melaporkan penanganan aktif di enam provinsi prioritas, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan. Di Kalimantan, petugas menghadapi gambut yang terbakar, keterbatasan akses dan sumber air, angin kencang, serta asap yang mengurangi jarak pandang sehingga menghambat penerbangan pemadaman. Pemerintah menjalankan operasi darat, patroli udara, pembasahan gambut, dan water bombing

Pekerjaan itu penting. Petugas yang masuk ke lahan terbakar menghadapi panas, asap, dan medan yang tidak selalu memungkinkan kendaraan mencapai lokasi. Namun, pemadaman adalah satu bagian dari persoalan, sementara kondisi yang membuat lahan mudah terbakar harus ditangani lebih lama. Selama gambut terus mengering, risiko kebakaran akan tetap tinggi ketika kemarau datang. 

Mengirim helikopter untuk menjatuhkan air merupakan tindakan yang diperlukan saat api menyebar; memastikan lahan tidak terus kehilangan kelembapan adalah pekerjaan yang seharusnya dilakukan sebelum api muncul.

Masalahnya tidak bisa diselesaikan dengan menyalahkan cuaca semata. Tahun ini, kondisi kering dan El Niño memperbesar risiko kebakaran. BMKG melaporkan pengaruh El Niño yang sangat kuat pada September 2026, sementara atmosfer kering meningkatkan kemungkinan api bertahan lebih lama, terutama di lahan gambut. Namun, cuaca kering tidak dengan sendirinya menjelaskan mengapa suatu lahan terbakar. Bahan bakar harus tersedia, api harus muncul, dan kondisi lahan menentukan seberapa jauh api dapat menjalar. 

Pertanyaan mengenai siapa yang menyalakan api, siapa yang membuka lahan, siapa yang memperoleh keuntungan dari perubahan penggunaan tanah, dan siapa yang bertanggung jawab atas pencegahannya, tidak boleh tenggelam dalam laporan cuaca. 

Pembukaan lahan dengan membakar dapat menjadi salah satu pemicu, tetapi setiap kejadian harus diperiksa berdasarkan bukti. Tidak semua titik panas membuktikan tindak pidana, dan tidak semua kebakaran dapat langsung dibebankan kepada satu kelompok. Justru karena persoalannya rumit, penyelidikan lapangan, penegakan hukum, dan keterbukaan data menjadi penting. Tanpa itu, perdebatan mudah berubah menjadi saling tuduh yang berhenti ketika hujan datang.

Dampak asap juga tidak berhenti pada orang yang tinggal tepat di sebelah lahan terbakar. Partikel halus dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Mata terasa pedih, tenggorokan kering, batuk tidak kunjung reda, dan orang dengan gangguan pernapasan menghadapi risiko yang lebih besar. Anak-anak, lansia, pekerja luar ruangan, serta keluarga yang tidak memiliki pendingin udara atau penyaring udara yang memadai, menanggung beban yang berbeda dari orang yang dapat tinggal di ruangan tertutup dengan udara bersih. Mereka tidak memiliki pilihan yang sama untuk menghindari paparan.

Ketika kualitas udara memburuk, imbauan untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan mungkin terdengar sederhana. Bagi buruh harian, pedagang kecil, pengemudi, petani, atau pekerja lapangan, tinggal di rumah bisa berarti kehilangan penghasilan. Masker yang sesuai pun tidak selalu tersedia atau terjangkau. Sekolah dapat diliburkan, tetapi kebutuhan hidup keluarga tidak ikut libur. Kebakaran, karenanya, memperbesar ketimpangan yang sudah ada: orang yang paling sedikit memiliki pilihan sering kali harus tetap bergerak di udara yang paling berbahaya.

Hutan juga menanggung kerugian yang tidak seluruhnya dapat dihitung dari luas lahan terbakar. Di Kalimantan, habitat orangutan dan berbagai satwa lain terancam ketika hutan terbakar atau terfragmentasi. Pada Oktober 2026, Reuters melaporkan bahwa delapan orangutan yang terancam punah dipindahkan ke kawasan hutan lindung Batu Nyambu setelah terdampak kebakaran di Borneo. Penyelamatan semacam itu memerlukan tenaga, pemeriksaan kesehatan, transportasi darat dan air, serta tempat yang layak bagi satwa yang kehilangan habitat. 

Orangutan yang dapat diselamatkan tidak berarti habitatnya telah pulih. Satwa yang dipindahkan harus beradaptasi dengan lingkungan baru, sementara hutan yang rusak memerlukan waktu panjang untuk pulih dan tidak selalu kembali dengan susunan ekologis yang sama. 

Pepohonan yang terbakar, lapisan tanah yang rusak, sumber makanan yang hilang, dan jalur perpindahan satwa, tidak dapat dipulihkan hanya dengan menghentikan api. Pemulihan membutuhkan perlindungan kawasan, pengelolaan air, dan pengawasan agar kerusakan yang sama tidak berulang.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya, termasuk operasi pemadaman dan restorasi gambut. Namun, laporan mengenai kebakaran yang berulang menunjukkan bahwa keberhasilan tidak bisa diukur hanya dari jumlah personel yang dikerahkan atau hektare yang dapat dipadamkan pada hari tertentu. Ukuran yang lebih keras adalah apakah lahan yang sama kembali terbakar pada musim berikutnya, apakah kanal yang mengeringkan gambut masih dibiarkan berfungsi, apakah pelanggaran ditindak, dan apakah masyarakat di sekitar kawasan memiliki pilihan penghidupan yang tidak bergantung pada pembukaan lahan dengan api.

Restorasi gambut membutuhkan pembasahan kembali lahan, pengelolaan kanal, pemulihan vegetasi, dan pemantauan jangka panjang. Pencegahan juga memerlukan kerja sama dengan masyarakat dan pemegang konsesi, disertai pengawasan yang tidak berhenti pada rapat koordinasi. Perusahaan yang beroperasi di kawasan rawan harus bertanggung jawab atas pencegahan dan penanganan kebakaran sesuai kewajiban hukumnya. Jika ditemukan pelanggaran, proses hukum harus mengikuti bukti, bukan berhenti pada pernyataan bahwa pemerintah akan bertindak tegas.

Yang membuat kebakaran Kalimantan begitu mengganggu adalah ketidakcocokan antara kecepatan kerusakan dan waktu yang diperlukan untuk memperbaikinya. Api dapat membakar lahan dalam hitungan jam, tetapi gambut terbentuk selama ribuan tahun. Kabut asap dapat menyebar dalam waktu singkat, sementara penyakit dan kehilangan penghidupan bisa bertahan jauh setelah udara kembali jernih. Hujan dapat membantu memadamkan api, tetapi tidak otomatis memulihkan tanah yang telah rusak.

Di Kalimantan Tengah, petugas masih harus mencari titik panas, menyiram tanah, dan memastikan api tidak menyala kembali. Di suatu bagian lahan yang permukaannya telah menghitam, asap tipis masih keluar dari sela-sela tanah. Petugas mendekat dengan peralatan pembasahan. Mereka harus memeriksa bagian yang tampak padam. Karena beberapa meter di bawah kaki mereka, bara mungkin masih bergerak.


Related

Indonesia 6962205400554733010

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item