The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Refleksi Kritis Muhammad Iqbal
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/the-reconstruction-of-religious-thought.html
![]() |
| Ilustrasi/quran1book.wordpress.com |
Muhammad Iqbal menulis tentang Tuhan setelah dunia mengetahui bahwa waktu tidak sesederhana jam di dinding. Ia berbicara tentang diri manusia ketika filsafat Eropa sedang sibuk membongkar gagasan tentang subjek yang stabil. Ia membicarakan agama pada masa ketika sains modern semakin percaya diri menjelaskan alam tanpa harus memanggil wahyu untuk setiap gejala. Semua itu tidak membuat Iqbal mundur.
Ia malah meminta Islam berpikir lebih keras.
The Reconstruction of Religious Thought in Islam sering disebut sebagai karya utama Iqbal, tetapi bentuk awalnya agak berbeda dari gambaran tentang “buku filsafat” yang mungkin muncul di kepala kita. Ia bermula sebagai rangkaian kuliah yang disampaikan Iqbal di Madras, Hyderabad, dan Aligarh, pada 1928–1929. Enam kuliah itu diterbitkan bersama pada 1930.
Edisi Oxford University Press 1934 menambahkan kuliah ketujuh, “Is Religion Possible?”, sehingga bentuk tujuh kuliah itulah yang kemudian paling dikenal. Iqbal menulisnya dalam bahasa Inggris, bukan Urdu atau Persia, dan itu sudah menunjukkan siapa yang sedang ia ajak bicara: dunia intelektual modern.
Kita sering mengenal Iqbal terlebih dulu sebagai penyair. Bang-e-Dra, Asrar-e-Khudi, puisi Persia dan Urdu, citra burung elang, manusia yang membangun dirinya, dan kemudian hubungannya dengan gagasan tentang kebangkitan umat Islam. Reconstruction memperlihatkan orang yang sama tanpa irama puisi. Kalimatnya jadi lebih panjang, penuh istilah filsafat, dan kadang terasa seperti seseorang yang sedang mencoba memegang terlalu banyak benda sekaligus: Tuhan, pengalaman religius, teori pengetahuan, waktu, materi, kehidupan, ego, sains, tasawuf, hukum, politik.
Memang terlalu banyak. Dan itu daya tariknya.
Mustansir Mir dalam Oxford Handbook of Islamic Philosophy menempatkan Reconstruction sebagai karya reformis modern yang masuk ke persoalan sosial, politik, dan hukum melalui lapisan yang lebih dalam: filsafat. Iqbal tidak puas memberikan jawaban teknis atas persoalan tertentu. Ia ingin mengubah cara Muslim memahami manusia dan dunia sebelum jawaban-jawaban praktis itu dibuat. Tujuan utamanya adalah menghidupkan kembali pemikiran Muslim dalam kondisi modern sambil mempertemukan tradisi Islam dengan filsafat, agama, dan ilmu pengetahuan modern.
Kata “reconstruction” karena itu jauh lebih penting daripada “modernity”. Iqbal tidak ingin sekadar melakukan penyesuaian kosmetik. Ia melihat ada bagian dari warisan pemikiran Islam yang telah menjadi beku. Konsep-konsep teologis lama, menurutnya, tidak selalu mampu menjawab pengalaman manusia yang hidup dalam dunia intelektual baru.
Ebrahim Moosa, dalam kajiannya tentang Iqbal, menekankan bahwa ia memang mendorong umat Islam untuk melakukan “reconstruction”, bukan sekadar menyesuaikan diri dengan kondisi modern.
Contoh paling jelas muncul pada pembahasannya tentang khudi, diri atau ego manusia. Istilah itu sering disederhanakan menjadi “percaya diri”. Itu terlalu kecil. Bagi Iqbal, khudi adalah persoalan tentang bagaimana manusia menjadi pribadi yang aktif, bebas, kreatif, dan mempunyai hubungan sadar dengan Tuhan. Manusia tidak ideal ketika dirinya lenyap menjadi ketidakberdayaan. Ia justru harus memperkuat kepribadiannya melalui tindakan, disiplin, cinta, dan hubungan yang hidup dengan Realitas Ilahi.
Di sini Iqbal agak berkelahi dengan bentuk tasawuf tertentu yang menurutnya terlalu menekankan pelarutan diri. Ia sangat menyukai Rumi, tetapi tidak ingin manusia hanya menjadi setetes air yang kehilangan identitas. Diri yang kuat bukan berarti egoisme. Justru diri yang kuat mempunyai kapasitas untuk bertindak secara moral. Itu bagian yang membuat Iqbal terdengar hampir seperti filsuf eksistensialis sebelum kita buru-buru menempelkan label itu kepadanya.
Ia juga tidak menganggap waktu sebagai latar kosong tempat peristiwa berlangsung. Dalam Reconstruction, pembahasan mengenai waktu membawa Iqbal ke persoalan kosmologi, pengalaman, dan keberadaan manusia. Oxford Handbook secara khusus mengidentifikasi “serial time and real time” sebagai salah satu gagasan penting dalam karya tersebut. Pengaruh Henri Bergson terlihat dalam cara Iqbal memikirkan waktu sebagai sesuatu yang hidup dan kreatif, bukan sekadar rangkaian titik yang dapat dihitung seperti angka pada kalender.
Karena itu sains menjadi persoalan serius baginya. Iqbal tidak mengambil posisi sederhana: sains adalah ancaman, maka harus ditolak. Ia juga tidak mengatakan: sains sudah menang, maka agama harus menyingkir. Ia membaca perkembangan sains sebagai tantangan terhadap cara manusia memahami realitas. Kalau ilmu pengetahuan menunjukkan alam sebagai proses yang dinamis, kalau fisika mengguncang gambaran lama tentang ruang dan waktu, kalau psikologi mengubah cara manusia memikirkan diri, mengapa filsafat keagamaan harus terus memakai kategori yang dibentuk oleh dunia berabad-abad sebelumnya?
Pertanyaan itu terdengar agak kurang sopan.
Iqbal memang sengaja kurang sopan terhadap kemapanan intelektual.
Ia bahkan membawa pengalaman religius ke dalam diskusi epistemologi. Pengalaman mistik, menurut Iqbal, bukan sekadar perasaan pribadi yang harus diletakkan di luar wilayah pengetahuan. Ia menganggap pengalaman religius mempunyai dimensi kognitif dan perlu dipahami secara serius, meskipun bentuk pengetahuannya berbeda dari persepsi inderawi.
Kajian Oxford tentang wahyu dan pengalaman religius dalam tradisi Islam menempatkan Iqbal sebagai tokoh penting, karena ia mencoba memahami wahyu dan pengalaman religius sebagai bagian dari cara manusia memperoleh pengetahuan tentang realitas.
Itu membuat Reconstruction bergerak ke wilayah yang agak liar. Di halaman yang berdekatan, pembaca dapat menemukan pembicaraan tentang Qur’an, teori relativitas, Bergson, Kant, pengalaman mistik, doa, manusia, dan sejarah filsafat Islam. Iqbal tidak berusaha menjaga meja kerjanya tetap rapi. Ia ingin semua benda itu bertabrakan.
Persoalan ijtihad kemudian masuk sebagai konsekuensi. Kalau realitas terus berubah, kehidupan manusia terus bergerak, dan masyarakat tidak lagi sama dengan masyarakat abad pertengahan, hukum dan pemikiran Islam tidak mungkin terus bekerja hanya dengan mengulang formulasi lama. Iqbal melihat ijtihad sebagai mekanisme penting bagi kemampuan komunitas Muslim merespons perubahan.
Dalam Reconstruction, pembahasan ijtihad tidak berdiri sebagai tambahan teknis. Ia merupakan konsekuensi dari pandangan Iqbal tentang alam dan manusia sebagai realitas yang dinamis.
Tentu Iqbal sendiri tidak selalu mudah diikuti. Bahkan penelitian kontemporer mengakui adanya kebingungan, ketegangan, dan kontradiksi dalam Reconstruction. Nauman Faizi, misalnya, berpendapat bahwa sebagian persoalan itu bersumber dari ketidakjelasan dalam epistemologi Iqbal sendiri. Jadi mengagumi Iqbal sebagai filsuf yang selalu konsisten juga tidak perlu. Buku ini memang kadang terasa seperti seseorang sedang mengejar pikirannya sendiri dan belum sempat membereskan semua meja.
Saya justru menganggap kekacauan itu bagian dari daya hidup bukunya.
Iqbal hidup di India Britania, dalam dunia Muslim yang menghadapi kolonialisme, perubahan politik, dominasi intelektual Eropa, dan pertanyaan besar mengenai masa depan umat. Cambridge mencatat bahwa ancaman yang ia rasakan bukan semata-mata persoalan agama, tetapi juga intelektual dan sosial-politik. Ia melihat umat Islam berada dalam krisis cara memandang dunia.
Maka ia tidak mau memilih antara dua kepatuhan: tunduk kepada masa lalu atau tunduk kepada modernitas. Ia ingin masa lalu dipaksa menjawab modernitas, sementara modernitas dipaksa menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat diselesaikannya sendiri.
Karena itu pula Reconstruction tidak nyaman dibaca sebagai buku yang memberi resep. Ia lebih mirip percobaan besar. Iqbal mengambil warisan Ibn Khaldun, Al-Ghazali, Rumi, dan tradisi filsafat Islam; memasukkan Bergson dan filsafat Eropa; memperhatikan perkembangan sains; kemudian mencoba membangun pandangan tentang Tuhan, manusia, waktu, pengetahuan, dan masyarakat yang masih dapat bernapas dalam abad kedua puluh.
Percobaan itu tidak selalu berhasil. Beberapa bagian terlalu percaya diri, beberapa konsepnya kabur, beberapa hubungan dengan filsafat Barat terasa dipaksakan. Tetapi kegagalan semacam itu jauh lebih berguna daripada pemikiran yang sejak awal takut menyentuh apa pun.
Sebab setelah membaca Iqbal, “Islam dan modernitas” tidak lagi tampak seperti dua kubu yang berdiri di ujung lapangan. Mereka sudah dilempar ke meja yang sama. Bergson duduk di sebelah Rumi. Fisika modern mengganggu teologi. Khudi mengganggu gagasan pasrah. Ijtihad mengganggu hukum yang membeku. Qur’an masuk ke tengah percakapan yang bahkan belum selesai.
Iqbal meninggalkan percakapan itu dalam keadaan belum beres.
Mungkin memang tidak perlu dibereskan.
Catatan terkait: Islam and Modernity, Buku Fazlur Rahman yang Paling Menggelisahkan


