Radio dan Perlawanan Filipina di Zaman Pendudukan Jepang
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/radio-dan-perlawanan-filipina-di-zaman.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Jepang bisa menguasai sebuah kota dengan tentara, truk, senapan, dan papan nama baru. Laut jauh lebih merepotkan. Ia tidak punya jalan utama yang bisa ditutup seluruhnya, tidak punya gerbang yang bisa dijaga sepanjang malam, dan terlalu banyak orang kecil yang setiap hari keluar-masuk dengan alasan yang tampak membosankan: mencari ikan, membawa garam, mengantar barang, menyeberang ke pulau sebelah.
Di Filipina selama pendudukan Jepang, dunia kecil semacam itu menjadi bagian dari perang yang tidak banyak muncul dalam foto-foto kemenangan. Radio Amerika berpindah melalui tangan orang Filipina, kapal selam membawa peralatan komunikasi ke pantai-pantai terpencil, dan nelayan serta pelaut lokal membantu membuat hubungan antara pulau-pulau yang secara militer telah dipisahkan Jepang. Sebagian pekerjaan itu tercatat dengan nama. Sebagian besar tidak.
Di sana, waktu itu, radio merupakan benda yang berbahaya. Pemerintah pendudukan Jepang melarang warga Filipina mendengarkan siaran dari dunia bebas. Pesawat radio disita, penggunaan gelombang pendek diawasi, dan orang yang kedapatan mendengarkan siaran asing menghadapi risiko penyiksaan bahkan hukuman mati. Meski begitu, orang-orang tetap mencari BBC, KGEI dari San Francisco, Radio Chungking, atau siaran lain yang membawa berita dari luar wilayah pendudukan. Sebuah penelitian sejarah tentang radio di Filipina mencatat bahwa banyak radio disembunyikan, bahkan dipindahkan ke daerah pegunungan untuk digunakan oleh jaringan perlawanan.
Kita terbiasa menganggap radio sebagai benda elektronik. Dalam perang gerilya Filipina, radio lebih dekat dengan organ tubuh. Ia adalah telinga yang diletakkan jauh dari markas, kemudian mulut mengirimkan kembali apa yang didengarnya.
Jaringan itu tidak muncul dari satu pusat yang rapi. Setelah pasukan Amerika mundur, kelompok-kelompok gerilya tumbuh di Luzon, Visayas, Mindanao, Leyte, Panay, dan pulau-pulau lain. Hubungan dengan Australia jadi sangat penting karena Jenderal Douglas MacArthur membutuhkan informasi dari Filipina, dan para gerilyawan membutuhkan senjata, obat, uang, serta radio. Kapal selam Amerika kemudian mulai memasok peralatan. Dalam catatan Angkatan Laut Amerika, sekitar 120 stasiun radio rahasia pernah membantu menghubungkan kelompok-kelompok perlawanan Filipina dengan markas MacArthur di Southwest Pacific Area.
Angka 120 terasa terlalu bersih untuk sesuatu yang sebenarnya kacau. Di belakang angka itu terdapat antena yang harus disamarkan, baterai yang harus dicari, operator yang harus berpindah tempat, pesan yang harus dikirim dalam Morse, dan orang-orang yang harus membawa komponen radio melewati wilayah yang dikendalikan tentara Jepang. Satu transmisi terlalu lama di tempat yang sama bisa menjadi undangan bagi patroli musuh.
Jepang memiliki kemampuan menemukan sumber transmisi. Karena itu stasiun radio gerilya tidak bisa bekerja seperti stasiun radio biasa. Operator harus memikirkan durasi, lokasi, tenaga listrik, keamanan, dan kemungkinan seseorang di sekitar mereka berbicara terlalu banyak. Di Manila, jaringan bawah tanah bahkan pernah menempatkan sebuah stasiun radio di ruang proyeksi sebuah bioskop. Suara mesin proyektor membantu menyamarkan suara peralatan radio, sementara kerumunan penonton membuat pergerakan orang menuju tempat tersebut lebih mudah disembunyikan.
Di daerah pesisir, masalahnya berbeda. Laut menyediakan jalan keluar sekaligus menyimpan bahaya. Perahu kecil dapat membawa manusia, dokumen, persediaan, atau pesan, tanpa menimbulkan kecurigaan selama aktivitasnya masih tampak seperti kegiatan biasa. Seorang nelayan yang berangkat sebelum matahari terbit tidak perlu menjelaskan terlalu banyak kepada orang yang tidak memahami laut. Ia sedang menangkap ikan. Titik.
Justru karena itu, masyarakat pesisir menjadi penting bagi perang komunikasi.
Salah satu contoh terdokumentasi muncul di Panaon, pulau di selatan Leyte yang menghadap pembukaan Surigao Strait. Sebuah stasiun coast watcher ditempatkan di sana dan mulai beroperasi pada 10 April 1943. Radio tersebut terus mengudara sampai 25 Agustus. Peralatan seperti itu memang dibawa masuk melalui operasi kapal selam. Catatan teknis Angkatan Darat Amerika menjelaskan bahwa radio coast watcher yang dipasok ke Filipina merupakan perangkat buatan Australia dengan daya rendah, mampu digunakan untuk komunikasi suara maupun Morse, dengan jangkauan sekitar 80 hingga 500 mil.
Delapan puluh sampai lima ratus mil. Untuk sebuah benda yang dapat dibawa oleh manusia, angka itu terasa ganjil. Beratnya harus cukup ringan untuk dipindahkan, tetapi cukup kuat untuk mengirimkan informasi melewati laut. Sumber dayanya jadi persoalan tersendiri. Antena harus dipasang. Lokasi harus aman. Pesan harus dikirim cepat. Setelah itu operator harus kembali menjadi manusia biasa sebelum tentara Jepang menemukan dari mana sinyal tersebut muncul.
Kesulitan listrik bahkan memaksa beberapa kelompok mencari cara yang hampir lucu jika perang tidak sedang berlangsung. Salah satu organisasi gerilya menggunakan sepeda statis untuk mengisi baterai radio. Mesin perang modern, dengan kata lain, kadang bergantung pada seseorang yang mengayuh sepeda di tempat tersembunyi.
Di Mindanao, Kolonel Wendell Fertig menghadapi persoalan serupa. Pada awal 1943, ia mengirim dua utusan menuju Australia menggunakan sebuah perahu nelayan kecil yang dilengkapi layar dan motor tempel. Mereka membawa informasi tentang keadaan gerilya Mindanao kepada MacArthur. Fertig sendiri merakit radio kasar untuk menghubungi Australia dan meminta bantuan.
Detail perahu kecil itu penting. Sejarah perang Pasifik sering membicarakan kapal selam Amerika dengan ukuran, nomor lambung, dan daftar muatannya. Perahu nelayan nyaris tidak mendapat kehormatan yang sama. Padahal hubungan antara keduanya sering bergantung pada orang-orang yang mengoperasikan perahu kecil tersebut.
Kapal selam datang dari dunia perang Amerika. Orang Filipina membawa barang-barang itu ke darat.
Mereka harus tahu pantai mana yang aman. Mereka harus mengetahui siapa yang bisa dipercaya. Mereka harus mengenali perairan, pasang, karang, dan jalur yang tidak mudah terlihat. Ketika malam terlalu gelap, seorang pelaut lokal tidak memerlukan peta militer untuk mengetahui arah. Tubuhnya sudah mengenal laut itu.
Di Panay, jaringan seperti itu sangat penting. Setelah Jepang menguasai pulau tersebut, kelompok Amerika dan Filipina bergerak ke daerah pegunungan. Kapal selam kemudian digunakan untuk memasok unit-unit gerilya dan coast watcher. Angkatan Laut Amerika mencatat bagaimana sistem komunikasi rahasia memungkinkan kelompok-kelompok tersebut tetap berhubungan dengan markas MacArthur.
Radio mengubah informasi menjadi sesuatu yang bisa bergerak. Seorang pengamat melihat kapal Jepang. Informasi itu masuk ke radio. Operator mengirimkannya dalam Morse. Pesan diterima di jaringan lain. Markas Amerika kemudian memiliki potongan kecil dari keadaan yang sebelumnya hanya diketahui seseorang di pantai.
Ketika invasi Leyte dimulai pada Oktober 1944, jaringan semacam itu jadi sangat berharga. Laporan radio gerilya membantu pihak Amerika membentuk gambaran mengenai posisi, kekuatan, dan pergerakan Jepang. Sejarah resmi Signal Corps bahkan mencatat bahwa jaringan komunikasi Filipina berkembang sampai mencakup stasiun-stasiun radio yang terhubung ke pusat pesan di Southwest Pacific Area.
Yang sering hilang dari cerita tersebut adalah jarak antara orang yang mengirim informasi dan orang yang menerima manfaatnya. Seorang perwira Amerika di markas dapat melihat laporan intelijen sebagai beberapa baris teks. Orang yang membuat laporan mungkin baru saja menghabiskan malam mengamati kapal Jepang dari balik semak, dengan radio di sampingnya dan suara serangga yang tidak berhenti. Ia mungkin tidak tahu apakah pesan yang dikirim benar-benar diterima.
Karena itulah saya tidak terlalu tertarik mengubah kisah ini menjadi cerita heroik tentang seorang nelayan misterius yang menyelundupkan radio di antara jaring ikan. Adegan itu memang bagus, tetapi sejarah tidak membutuhkan adegan yang bagus jika dokumennya tidak mendukung.
Yang terdokumentasi jauh lebih menarik: sebuah masyarakat kepulauan menggunakan kebiasaan hidup sehari-harinya untuk membuat perang bergerak melalui celah-celah yang tidak bisa ditutup oleh pendudukan militer.
Perahu tetap pergi melaut. Radio tetap menyala.
Seseorang di Panaon mendengar suara Morse di headphone, mencatat pesan, kemudian mungkin mematikan perangkat dan kembali melihat laut. Jepang masih menguasai banyak tempat. Matahari tetap terbit. Jaring ikan tetap harus dikeringkan.
Besok malam, kalau baterainya masih cukup, radio itu akan dinyalakan lagi.
Catatan terkait: Tawanan Perang yang Menyaksikan Nagasaki Dijatuhi Bom


