Sartre, Bad Faith, dan Manusia yang Menipu Diri Sampai Mati
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/sartre-bad-faith-dan-manusia-yang.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Seseorang duduk di sebuah kafe di Paris pada sore hari. Asap rokok menggantung di udara. Cangkir kopi mulai dingin. Di luar, orang-orang berlalu-lalang seperti biasa. Tidak ada yang tampak dramatis. Tidak ada petir yang menyambar langit. Tidak ada revolusi. Tidak ada perang.
Namun di kepala Jean-Paul Sartre, ada sebuah gagasan yang jauh lebih merusak daripada ledakan apa pun. “Kita tidak memiliki hakikat yang sudah ditentukan sebelumnya.”
Kalimat itu terdengar hampir membosankan jika dibaca cepat. Banyak orang mengangguk lalu melanjutkan hidupnya. Padahal jika dipikirkan sampai tuntas, kalimat itu seperti seseorang yang diam-diam mencabut fondasi rumah ketika penghuninya masih tertidur.
Selama berabad-abad, manusia hidup dengan keyakinan bahwa dirinya memiliki tempat yang sudah ditentukan. Dalam tradisi Kristen yang membentuk Eropa tempat Sartre tumbuh, manusia dianggap diciptakan dengan tujuan tertentu. Tuhan terlebih dulu merancang hakikat manusia, baru kemudian manusia lahir ke dunia. Seperti seorang pembuat pisau yang mengetahui fungsi pisaunya sebelum pisau itu selesai dibuat.
Sartre membalik urutan tersebut. Manusia tidak seperti pisau. Manusia pertama-tama muncul. Bernapas. Tersandung. Salah mengambil keputusan. Jatuh cinta kepada orang yang keliru. Memilih pekerjaan yang tidak disukai. Menyesali sesuatu pada usia empat puluh tahun. Setelah semua itu, barulah identitas terbentuk.
Tidak ada cetak biru. Tidak ada rancangan awal. Tidak ada dokumen rahasia kosmis yang menjelaskan siapa sebenarnya kita. Sartre menyebut gagasan itu dengan ungkapan yang kini terkenal; existence precedes essence. Eksistensi mendahului esensi.
Banyak orang mengira itu adalah filsafat yang membebaskan. Mereka membayangkan kebebasan sebagai sesuatu yang ringan dan menyenangkan. Seperti membuka jendela setelah lama berada di ruangan pengap. Saya justru melihat sesuatu yang jauh lebih gelap dalam pemikiran Sartre.
Kebebasan yang ia tawarkan terasa seperti seseorang yang tiba-tiba dibangunkan di tengah laut, dan diberi tahu bahwa tidak ada daratan di mana pun. Tidak ada peta. Tidak ada kompas. Tidak ada kapten. Tidak ada alasan untuk menyalahkan siapa pun ketika arah yang dipilih ternyata salah.
Karena itulah Sartre tidak mengatakan manusia diberkati dengan kebebasan. Ia mengatakan manusia dikutuk untuk bebas. Kata "terkutuk" di sini bukan hiasan retoris. Kata itu dipilih dengan sengaja.
Bayangkan seorang pegawai kantor yang setiap pagi mengeluh tentang pekerjaannya. Ia mengatakan bahwa hidup memaksanya berada di sana. Ia mengatakan bahwa sistem telah menjebaknya. Ia mengatakan bahwa tidak ada pilihan lain.
Sartre akan memandang alasan-alasan tersebut dengan curiga. Bukan karena ia tidak memahami realitas ekonomi. Sartre tahu kemiskinan itu nyata. Ketimpangan sosial itu nyata. Kekuasaan politik itu nyata. Ia hidup melalui pendudukan Nazi di Prancis. Ia tahu seperti apa tekanan sejarah terhadap individu. Masalahnya, bahkan dalam situasi yang paling sempit sekalipun, masih tersisa ruang untuk memilih sikap terhadap keadaan tersebut.
Orang punya pilihan. Pilihan-pilihan itu mungkin buruk, mahal, menyakitkan, atau berisiko. Ia bisa mengundurkan diri. Ia bisa pindah kota. Ia bisa hidup lebih miskin. Ia bisa mencoba pekerjaan lain. Ia bisa menerima kondisi sekarang sambil mengakui bahwa penerimaan tersebut adalah pilihannya sendiri.
Kebanyakan dari kita tidak menyukai kesadaran semacam itu. Jauh lebih nyaman mengatakan bahwa hidup telah diputuskan oleh nasib, keluarga, masyarakat, genetik, algoritma media sosial, atau pemerintah. Daftar penyebab selalu tersedia. Daftar itu panjang sekali.
Sartre menyebut kecenderungan tersebut sebagai mauvaise foi, atau bad faith. Terjemahan harfiahnya memang "iman buruk", tetapi maknanya lebih dekat pada penipuan diri sendiri. Bad faith terjadi ketika seseorang berpura-pura bahwa dirinya adalah benda yang tidak memiliki kebebasan, padahal ia tahu bahwa dirinya tetap memiliki kapasitas untuk memilih.
Contoh paling terkenal muncul dalam buku Being and Nothingness. Sartre menggambarkan seorang pelayan kafe yang memainkan perannya dengan terlalu sempurna. Gerak tangannya terlalu mekanis. Senyumnya terlalu profesional. Seluruh dirinya seolah berkata; aku hanyalah seorang pelayan.
Di mata Sartre, itulah masalahnya. Tidak ada manusia yang "hanyalah" sesuatu. Pelayan itu lebih besar daripada pekerjaannya. Sama seperti seorang tentara lebih besar daripada seragamnya. Seorang profesor lebih besar daripada gelar akademiknya. Seorang narapidana lebih besar daripada nomor identitasnya. Manusia terus-menerus melampaui kategori yang ditempelkan kepadanya.
Di sinilah filsafat Sartre jadi tidak nyaman. Banyak filsafat menawarkan penghiburan. Sebagian menawarkan surga. Sebagian menawarkan kemajuan sejarah. Sebagian menawarkan harmoni alam semesta. Sartre hampir tidak menawarkan apa pun selain tanggung jawab. Tidak heran banyak orang merasa jengkel ketika membacanya.
Bayangkan seseorang yang baru kehilangan pekerjaan, sedang menghadapi perceraian, atau hidup dalam kemiskinan. Sartre datang dan mengatakan bahwa dia tetap bertanggung jawab atas respons terhadap keadaan tersebut.
Kalimat seperti itu terdengar kejam. Kadang memang terasa kejam.
Kritikus Sartre sering menyerangnya dari arah itu. Mereka mengatakan bahwa filsafat eksistensial terlalu individualistis dan gagal memahami struktur sosial yang membentuk kehidupan manusia.
Kritik tersebut tidak sepenuhnya salah. Sartre sendiri bergulat dengan persoalan itu sepanjang hidupnya. Setelah Perang Dunia II, ia semakin tertarik pada Marxisme karena menyadari bahwa kebebasan individu tidak pernah berdiri di ruang hampa. Orang yang lahir di apartemen mewah Paris tidak memulai permainan dari titik yang sama dengan anak petani miskin di Aljazair kolonial.
Tetap saja, bahkan ketika ia bergerak mendekati politik kiri, Sartre tidak pernah meninggalkan keyakinan dasarnya. Kita tidak memilih kondisi awal permainan. Kita tetap memainkan permainan itu.
Mungkin itulah bagian paling mengganggu dari seluruh proyek eksistensialisme. Banyak orang berharap menemukan alasan terakhir yang dapat membebaskan mereka dari tanggung jawab. Mereka mencari sesuatu yang dapat berkata, "Semua ini memang sudah ditentukan sejak awal."
Sartre menolak memberikan hadiah tersebut. Ketika seseorang berkata, "Aku memang begini dari sononya," Sartre mendengar bunyi pintu yang sedang ditutup.
Ketika seseorang berkata, "Aku tidak punya pilihan," Sartre mulai bertanya pilihan apa yang sedang disembunyikan.
Ketika seseorang berkata, "Inilah takdirku," Sartre ingin tahu berapa banyak keputusan yang diam-diam telah diubah menjadi takdir agar terasa lebih nyaman.
Karena di balik hampir semua bentuk bad faith terdapat keinginan yang sangat manusiawi; keinginan untuk beristirahat dari kebebasan.
Malam mulai turun di Paris. Lampu-lampu menyala di Boulevard Saint-Germain. Para pengunjung kafe pulang satu per satu. Di atas meja masih ada gelas kosong, puntung rokok, lembar koran yang terlipat. Tidak ada suara yang datang dari langit untuk menjelaskan siapa mereka sebenarnya.
Catatan terkait: Filsafat Sartre, Eksistensialisme, dan Kutukan Bernama Kebebasan


