Masalah di Ulaanbaatar: Dari Urbanisasi sampai Kelangkaan Air
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/masalah-di-ulaanbaatar-dari-urbanisasi.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Ulaanbaatar bisa membuat seseorang melihat dua Mongolia dari satu ruas jalan. Di pusat kota, kaca dan baja memantulkan langit yang sangat biru, mobil-mobil berhenti dalam kemacetan, papan nama restoran Korea dan kedai kopi berdiri di antara gedung apartemen.
Beberapa kilometer dari sana, lereng-lereng kota dipenuhi pagar kayu, rumah kecil, tumpukan batu bara, dan ger—lingkaran putih dengan atap rendah yang selama berabad-abad menjadi rumah masyarakat penggembala Mongolia. Pada musim dingin, cerobong-cerobong kecil mengepulkan asap. Dari kejauhan, asap itu menyatu menjadi lapisan kelabu yang menggantung di atas lembah.
Kota modernnya bukan hal yang aneh. Yang aneh adalah bentuk rumah yang mengikutinya.
Ger bukan tenda sembarangan yang dipasang untuk wisatawan. Struktur tradisional itu terdiri dari rangka kayu bundar, dinding kisi-kisi, tiang penyangga atap, dan penutup felt yang dapat dibuka atau dipindahkan. Bagi keluarga penggembala, sifat portabelnya masuk akal: padang rumput berubah, musim bergerak, kawanan ternak membutuhkan ruang. Ger memungkinkan rumah ikut berpindah ketika kehidupan berpindah.
Ulaanbaatar justru membuat logika itu macet.
Keluarga yang datang dari pedesaan membawa ger mereka ke kota, mendirikan rumah di sebidang tanah, memasang pagar, mencari pekerjaan, menyekolahkan anak, membeli batu bara, dan perlahan membangun tambahan berupa rumah kayu, bata, atau beton. Permukiman semacam itu kemudian dikenal sebagai ger districts. World Bank memperkirakan lebih dari separuh penduduk Ulaanbaatar kini tinggal di kawasan ger, sementara laporan lain mengenai urbanisasi Mongolia menunjukkan bahwa sekitar 80 persen perluasan spasial kota antara 1999 dan 2018 terjadi di kawasan ger.
Perubahan itu dipercepat setelah runtuhnya sistem komunis pada awal 1990-an. Kolektivisasi yang sebelumnya mengorganisasi kehidupan peternak berakhir, ekonomi berubah, dan gelombang migrasi menuju ibu kota membesar. Dzud—musim dingin ekstrem yang dapat membunuh ternak dalam jumlah besar—juga mendorong keluarga penggembala kehilangan sumber penghidupan dan mencari kesempatan di kota. World Bank mencatat bahwa urbanisasi Mongolia merupakan hasil campuran tekanan iklim, perubahan ekonomi, dan peluang yang lebih besar di kawasan perkotaan.
Mereka datang dengan sesuatu yang sebenarnya sangat praktis: rumah.
Itulah bagian yang membuat Ulaanbaatar berbeda dari banyak cerita urbanisasi. Migran miskin biasanya masuk ke kota melalui apartemen sempit, rumah kontrakan, atau pemukiman padat. Di Mongolia, sebagian orang dapat membawa tempat tinggalnya sendiri. Ger dapat dibongkar, diangkut, lalu didirikan kembali. Secara fisik, perpindahan itu bisa berlangsung cepat. Kota tidak.
Pagar kemudian muncul. Jalan tanah mengikuti kontur bukit. Sumur dan kios air menjadi penting. Sambungan listrik ditarik. Anak-anak pergi ke sekolah. Kompor dinyalakan. Sebuah keluarga yang dulu memandang padang rumput sebagai ruang hidup kini menghadapi persoalan yang sangat kota: berapa jauh sekolah dari rumah, berapa lama perjalanan ke tempat kerja, apakah ambulans dapat masuk, apakah jalan akan berubah menjadi lumpur, dan dari mana mendapatkan air.
Pada musim dingin, persoalan itu menjadi brutal.
Ulaanbaatar berada di lembah dengan musim dingin yang sangat dingin. Rumah-rumah apartemen di pusat kota memperoleh panas dari sistem pemanas terpusat, sedangkan sebagian besar rumah di ger districts tidak tersambung ke jaringan tersebut. Banyak keluarga mengandalkan kompor yang membakar batu bara atau bahan bakar lain untuk menjaga ruangan tetap hangat. World Bank mencatat bahwa pembakaran batu bara mentah di kawasan ger merupakan sumber utama polusi udara musim dingin kota.
Masalahnya terasa sampai ke tubuh. Ketika suhu turun puluhan derajat di bawah titik beku, panas bukan kenyamanan tambahan. Panas adalah kebutuhan dasar. Kompor menyala karena keluarga harus tidur dalam keadaan hangat. Asap keluar karena kompor menyala. Ribuan rumah melakukan hal yang sama, setiap malam.
Pada pagi musim dingin, langit Ulaanbaatar dapat berubah warna. Pegunungan yang pada musim panas terlihat jelas mengelilingi kota menjadi samar di balik asap. Mata pedih. Napas terasa lebih berat. Anak sekolah tetap harus berangkat. Mobil bergerak lambat. Di pusat kota, gedung-gedung apartemen berdiri dengan sistem pemanas yang berbeda, sementara di lereng-lereng luar kota keluarga menghabiskan sebagian hidupnya mengatur api.
Kontrasnya bahkan terlihat dari harga sebuah rumah. World Bank pada 2024 menggambarkan kesenjangan tersebut dengan contoh sederhana: rumah bata sederhana di kawasan ger bisa bernilai sekitar US$10.000, sementara apartemen modern dapat mulai sekitar US$40.000. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, perpindahan dari ger ke apartemen bukan sekadar keputusan arsitektur. Itu lompatan finansial yang besar.
Karena itu, ger tidak bisa dibaca hanya sebagai tanda kemiskinan. Sebagian keluarga memilihnya karena tanah yang tersedia dan kemampuan untuk membangun rumah secara bertahap memberi ruang yang tidak mereka dapatkan dari apartemen. Masalahnya muncul ketika bentuk hunian tersebut ditempatkan dalam kota yang infrastrukturnya tidak ikut berkembang.
Ulaanbaatar tumbuh terlalu melebar. Jalan raya, jaringan air, saluran pembuangan, transportasi umum, sekolah, dan layanan kesehatan, harus mengejar pemukiman yang sudah lebih dulu muncul. World Bank mencatat bahwa ekspansi berkerapatan rendah dan kekurangan infrastruktur membuat biaya pelayanan kota meningkat, sementara struktur jalan dan tata guna lahan turut memperparah kemacetan.
Persoalan air memberi gambaran yang sangat kasar tentang jarak antara kota formal dan ger district. Sebelum berbagai proyek perbaikan berjalan, penduduk kawasan ger harus membawa air dari kios umum; laporan World Bank pada 2004 mencatat beberapa keluarga harus menempuh jarak hingga sekitar 350 meter untuk mencapai kios air. Tiga ratus lima puluh meter tidak terdengar jauh sampai seseorang harus membawa air pulang dalam suhu di bawah nol.
Ulaanbaatar juga tidak bisa sekadar memindahkan semua ger ke gedung apartemen. Itu akan mengabaikan alasan ekonomi dan sosial mengapa kawasan tersebut tumbuh. Banyak keluarga memiliki tanah, membangun rumah sedikit demi sedikit, memelihara ternak dalam skala kecil, atau menggunakan ger sebagai ruang yang fleksibel. World Bank sekarang justru mendorong pendekatan gentle densification: memperbaiki jalan, infrastruktur, layanan dasar, dan kualitas bangunan tanpa menghapus seluruh struktur sosial kawasan ger sekaligus.
Ada sesuatu yang keras kepala dalam bentuk ger di Ulaanbaatar. Kota boleh menambah menara kaca, pusat perbelanjaan, apartemen mewah, dan jalan baru. Ger tetap muncul di lereng. Rumah bundar dengan rangka kayu yang dulu dirancang agar dapat mengikuti kawanan ternak sekarang berdiri di samping mobil tua, antena televisi, pagar papan, dan kabel listrik.
Ironinya tidak berhenti pada arsitektur. Mongolia sering dibayangkan sebagai negara padang rumput, kuda, dan penggembala yang hidup jauh dari kota. Kenyataannya, Ulaanbaatar telah menyerap hampir separuh penduduk Mongolia dan menyumbang sekitar dua pertiga produk domestik bruto negara itu. Kota tersebut menjadi pusat ekonomi yang sangat dominan, sehingga orang yang ingin mencari pekerjaan, sekolah, rumah sakit, atau kesempatan ekonomi, sering tidak punya banyak pilihan selain datang ke sana.
Pada malam musim dingin, lampu apartemen di pusat Ulaanbaatar menyala dalam barisan panjang. Di luar kawasan pusat, lampu-lampu rumah lebih kecil dan jaraknya tidak teratur. Dalam satu rumah ger, keluarga mungkin duduk mengitari kompor yang sama yang sejak sore digunakan untuk memasak dan menghangatkan ruangan. Atap bundarnya berfungsi sebagaimana mestinya, hanya saja di luar sana tidak lagi terdapat padang rumput yang bisa dicapai setelah rumah dibongkar dan diangkut.
Besok pagi, kota akan macet lagi. Ger tetap berdiri. Kompor akan dinyalakan sebelum matahari naik penuh, dan seseorang akan membuka pintu kayu menghadapi udara yang menusuk, sementara di kejauhan gedung apartemen sudah menyala dari lantai bawah sampai lantai paling atas.
Rumah bundar itu tidak bergerak.
Kali ini memang tidak punya tempat untuk pergi.
Catatan terkait: Petra, Kota Masa Lalu yang Terus Hidup di Zaman Modern


