Mengapa Stres Berpengaruh Pada Tubuh Manusia?
https://www.belajarsampaimati.com/2026/04/mengapa-stres-berpengaruh-pada-tubuh.html
![]() |
| Ilustrasi/yesdok.com |
Apa yang biasa kita rasakan ketika mengalami stres? Ya, badan terasa capek meski tidak mengerjakan apa-apa, nafsu makan jadi berkurang atau bahkan hilang, dan merasa “nggak ingin ngapa-ngapain”. Itu hal-hal yang biasa terjadi pada kebanyakan orang ketika sedang stres. Padahal, stres berasal dari pikiran—misalnya karena banyaknya beban yang harus dipikirkan—tapi kenapa sesuatu yang berasal dari pikiran bisa berpengaruh pada tubuh kita?
Tubuh manusia memang unik. Sesuatu yang berasal dari pikiran bisa menimbulkan dampak pada tubuh secara keseluruhan. Ketika stres, bagian otak kita—khususnya hipotalamus—mengirim sinyal ke kelenjar pituitari dan adrenal, memicu pelepasan hormon seperti adrenalin dan kortisol. Hal itu dikenal sebagai respons fight-or-flight (lawan atau lari).
Ketika hal itu terjadi, dampaknya akan terasa pada tubuh kita. Detak jantung meningkat, tekanan darah naik, aliran darah ke otot bertambah. Kemudian, pernapasan jadi cepat dan dangkal, untuk menyediakan oksigen lebih banyak bagi otot. Fungsi pencernaan juga melambat karena energi dialihkan ke sistem yang lebih kritis untuk bertahan hidup.
Stres yang datang sesekali mungkin tidak menimbulkan masalah serius. Namun, stres yang berlangsung lama atau bersifat jangka panjang dapat menyebabkan hormon seperti kortisol tetap tinggi, yang menimbulkan risiko berbagai gangguan metabolik dan kardiovaskular.
Hormon kortisol memiliki efek menekan pada sistem kekebalan tubuh. Dalam jangka pendek, hal itu mungkin membantu mencegah peradangan berlebihan. Tetapi, stres kronis atau berkepanjangan dapat mengurangi kemampuan tubuh melawan infeksi, meningkatkan risiko penyakit autoimun, hingga memperlambat penyembuhan luka. Dengan kata lain, tubuh jadi lebih rentan terhadap penyakit saat stres berkepanjangan.
Kemudian, stres juga memiliki pengaruh pada sistem pencernaan. Stres dapat menyebabkan gangguan gastrointestinal, seperti mulas atau refluks lambung, diare atau sembelit. Stres berkepanjangan dapat mengubah flora usus yang mempengaruhi pencernaan dan bahkan suasana hati, karena ada gut-brain axis (hubungan antara usus dan otak). Hal itu terjadi karena aliran darah dialihkan dari pencernaan ke otot dan otak saat menghadapi stres, sehingga sistem pencernaan kurang optimal.
Stres kronis juga mempengaruhi otak, khususnya hipokampus, yang berperan dalam memori dan pembelajaran, dan prefrontal cortex yang bertugas mengambil keputusan. Karenanya, rata-rata kita biasanya jadi malas mikir ketika sedang stres, karena otak memang sedang terganggu, khususnya dalam hal konsentrasi dan pengambilan keputusan. Memori jangka pendek juga menurun. Karenanya tidak heran kalau kita jadi mudah lupa ketika lagi stres. Yang lebih mengkhawatirkan, stres berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gangguan mental, seperti depresi dan kecemasan.
Bukan hanya mempengaruhi pikiran, hormon stres juga mempengaruhi neurotransmitter, sehingga suasana hati bisa berubah, bikin kita jadi mudah marah, cemas, atau sedih.
Apakah stres dapat menimbulkan penyakit? Mungkin tidak secara langsung. Tapi stres memiliki efek pada sistem kardiovaskular. Peningkatan detak jantung, tekanan darah tinggi, dan vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah) akibat stres kronis dapat meningkatkan risiko hipertensi, mempercepat pengerasan arteri (aterosklerosis), dan meningkatkan kemungkinan serangan jantung atau stroke.
Stres berkepanjangan juga dapat menimbulkan gangguan tidur atau insomnia, penurunan libido dan gangguan hormon reproduksi, masalah kulit seperti jerawat atau eksim, hingga penambahan atau penurunan berat badan drastis karena perubahan nafsu makan.
Idealnya, mungkin, kita jarang stres. Ataupun kalau stres, cukup stres yang ringan dan tidak berkepanjangan. Tapi menjalani hidup sekarang yang sering sulit memang rentan menimbulkan stres. Padahal kehidupan sekarang sebenarnya lebih mudah dibanding kehidupan ratusan tahun lalu. Pernah bertanya-tanya kenapa kehidupan kita makin mudah—karena ada banyak sarana teknologi—tapi menjalani hidup justru makin membingungkan dan terasa sulit? Kamu bisa menemukan jawabannya di sini: Mengapa Dunia Seperti Sekarang?
Jadi, kembali ke topik, stres mempengaruhi tubuh manusia karena ia melibatkan seluruh sistem fisiologis; saraf, hormon, imun, kardiovaskular, pencernaan, dan otak. Dalam jangka pendek, stres sebenarnya bisa bermanfaat, khususnya membantu tubuh waspada dan siap menghadapi tantangan. Namun, stres kronis atau berlebihan bisa memicu gangguan serius, dari gangguan mental hingga penyakit fisik. Stres adalah alarm alami tubuh, tetapi, jika alarm itu terus-menerus “menyala”, ia justru jadi ancaman bagi kesehatan secara keseluruhan.
Hmm... ada yang mau menambahkan?

%20-%20xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx.png)
%20-%20Copy.png)
