Heat (1995): Al Pacino, Robert De Niro, dan Pekerjaan yang Serius

Ilustrasi/spoilertown.com
Michael Mann membuat Heat dengan cara yang agak berbahaya: ia memberi penonton terlalu banyak waktu untuk tinggal bersama orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu baik. Neil McCauley membunuh. Vincent Hanna menghancurkan kehidupan rumah tangganya sendiri. Chris Shiherlis meninggalkan istri dan anak demi pekerjaan yang bisa membuatnya mati kapan saja. Michael Cheritto punya keluarga, tetapi juga ikut merampok bank. Waingro bahkan terlalu menjijikkan untuk diberi banyak ruang. 

Film ini berdurasi hampir tiga jam, penuh senjata, mobil, polisi, uang dan mayat, tetapi yang terus mengganggu setelah film selesai justru percakapan orang-orang itu ketika mereka sedang tidak menembak siapa pun.

Heat ditulis dan disutradarai Michael Mann, dengan Robert De Niro sebagai Neil McCauley dan Al Pacino sebagai Vincent Hanna. Val Kilmer, Tom Sizemore, Jon Voight, Diane Venora, Amy Brenneman, Ashley Judd, Natalie Portman, dan Dennis Haysbert, mengisi kelompok karakter yang membuat Los Angeles dalam film ini terasa seperti kota yang dihuni terlalu banyak orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.

Mann punya obsesi terhadap pekerjaan. Bukan pekerjaan dalam pengertian orang berangkat pukul delapan pagi, pulang sore, lalu mengeluh soal kantor. Pekerjaan dalam Heat adalah sesuatu yang mengambil seluruh tubuh manusia. 

Neil McCauley adalah pencuri profesional yang mengatur hidupnya berdasarkan satu prinsip praktis: jangan menyimpan sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan dalam tiga puluh detik ketika keadaan berubah. Ia hampir tidak memiliki perabot. Ia hidup dengan disiplin yang nyaris menyedihkan. Ketika bertemu Eady, seorang desainer grafis yang diperankan Amy Brenneman, persoalannya bukan apakah McCauley mencintainya. Persoalannya jauh lebih konkret: apakah seseorang yang membangun hidup agar selalu siap melarikan diri masih sanggup tinggal?

Vincent Hanna mengambil arah yang berlawanan, dan hasilnya sama buruknya. Ia seorang letnan LAPD yang mengejar McCauley dengan konsentrasi seorang maniak. Pernikahannya dengan Justine, diperankan Diane Venora, sudah rusak. Anak tirinya, Lauren, diperankan Natalie Portman, berada dalam masalah emosional yang berat, dan Hanna bahkan tidak mampu hadir sebagai ayah ketika dibutuhkan. Ia mengejar kriminal pada siang hari dan membawa pekerjaan itu pulang ke tempat tidur. 

Roger Ebert melihat bagian itu dengan sangat tepat ketika menulis bahwa para perempuan dalam film seolah harus menunggu laki-laki yang sibuk bermain dengan pekerjaannya; rumah tangga mereka hancur karena laki-laki tidak pernah benar-benar meninggalkan pekerjaan.

Itulah salah satu alasan Heat terasa jauh lebih besar daripada film perampokan biasa. Mann tidak memberi kita dua tokoh utama lalu menyuruh mereka berlari menuju pertemuan terakhir. Ia membangun dua sistem kehidupan yang kebetulan bergerak saling mendekat. McCauley mempunyai Chris, Cheritto, Trejo dan Nate. Hanna mempunyai timnya sendiri. Mereka semua punya telepon, mobil, rumah, pasangan, atasan, utang, kebiasaan, dan tubuh yang suatu saat akan tumbang. Ketika satu orang tertembak, efeknya tidak berhenti pada orang tersebut.

Film ini juga memahami bahwa pekerjaan kriminal sebenarnya sangat membosankan sebelum jadi sangat mengerikan. Kru McCauley mengamati tempat, menghitung waktu, mempelajari prosedur keamanan, mengganti kendaraan, menunggu. Perampokan kendaraan lapis baja pada awal film tidak terasa seperti sulap. Truk, kendaraan derek dan senjata berat bekerja bersama dalam sebuah operasi yang mekanis. Setelah itu datang perampokan bank yang legendaris. 

Di sana, Mann membuat senjata otomatis terdengar seperti benda fisik yang benar-benar berat. Letusan senapan memantul di antara gedung-gedung Los Angeles, kaca pecah, orang-orang berlari, mobil polisi datang, dan suara tembakan terasa lebih kasar daripada kebanyakan film aksi Hollywood. Telinga seperti ikut lelah.

Adegan baku tembak setelah perampokan bank adalah salah satu alasan Heat masih terasa berbeda tiga puluh tahun kemudian. Mann dan sinematografer Dante Spinotti merekam Los Angeles secara langsung di lokasi, bukan membangun kota palsu di studio; produksi menggunakan banyak lokasi kota dan berlangsung lebih dari seratus hari.

Jalan-jalan pusat Los Angeles tidak berfungsi sebagai dekorasi. Gedung, parkiran, jalan layang, dan trotoar, menentukan bagaimana manusia bergerak. Ketika Chris menembak sambil mundur, ketika Hanna memerintahkan anak buahnya, ketika polisi berlindung di balik kendaraan, ruang kota menjadi bagian dari adegan. Kita tahu mereka sedang berada di Los Angeles, bukan di sebuah kota film yang kebetulan diberi papan nama Los Angeles.

Ada satu keputusan Mann yang jauh lebih gila daripada semua adegan tembak-menembak itu: ia membuat Pacino dan De Niro menunggu sangat lama sebelum benar-benar berhadapan. Keduanya memang sama-sama muncul dalam The Godfather Part II, tetapi tidak pernah berbagi adegan, karena karakter mereka berada dalam periode waktu yang berbeda. Heat menjadi pertemuan layar pertama mereka.

Mann tahu penonton datang membawa sejarah kedua aktor tersebut. Ia tidak buru-buru memuaskan mereka.

Ketika Hanna menghentikan mobil McCauley dan mengajaknya minum kopi, film mendadak menurunkan volumenya. Mereka duduk berhadapan di restoran Kate Mantilini di Beverly Hills.

Tidak ada pistol yang diarahkan. Tidak ada musik yang menyuruh kita tegang. Dua laki-laki, yang secara teknis seharusnya menjadi musuh, berbicara mengenai kehidupan mereka. McCauley menjelaskan bagaimana ia memandang keterikatan. Hanna juga tahu dirinya tidak berbeda jauh. Mereka saling mengerti dengan cara yang agak menggelisahkan karena pemahaman itu begitu cepat.

Pacino bermain dengan energi yang hampir membuat meja restoran terasa terlalu kecil. De Niro, sebaliknya, menahan semuanya. Hanna meledak; McCauley mengerem. Pacino tersenyum lebar, berteriak, menggerakkan kepala, bergerak dengan kegelisahan yang tidak pernah benar-benar padam. De Niro sering hanya menatap. Dua gaya akting itu seharusnya bertabrakan, tetapi Mann memakainya seperti dua jenis mesin yang berbeda.

Hal yang paling saya sukai dari Heat justru terjadi di sela-sela reputasi besarnya sebagai film kriminal. Donald Breedan, narapidana yang diperankan Dennis Haysbert, bekerja di sebuah restoran Bob's Big Boy di Burbank.

Ia hanya ingin keluar dari kehidupan lamanya. Chris ingin mempertahankan keluarganya. Charlene ingin Chris berhenti menghancurkan rumah mereka. Eady ingin tahu apakah Neil benar-benar bisa menjadi manusia biasa. Justine sudah lelah menghadapi Vincent. Semua orang seperti sedang mencoba menarik satu orang lain keluar dari kehidupannya sendiri, dan hampir semuanya gagal.

Maka film ini semakin pahit ketika McCauley benar-benar memiliki kesempatan pergi. Ia sudah dekat dengan jalan keluar. Prinsip tiga puluh detiknya sebenarnya bisa menyelamatkannya. Ia tinggal pergi.

Yang terjadi sesudahnya membuat seluruh prinsip hidupnya terasa konyol. McCauley kembali.

Di situlah saya justru percaya pada film ini. Bukan karena polisi menang atau penjahat kalah, tetapi karena Mann tidak membuat manusia sesederhana kode etik yang mereka ucapkan sendiri. McCauley menghabiskan hidupnya meyakini bahwa ia bisa meninggalkan apa pun. Ternyata tidak. Hanna menghabiskan hidupnya mengejar orang lain sambil kehilangan orang-orang di rumah. Chris bicara tentang keluarga sambil terus melakukan pekerjaan yang membuat keluarganya kehilangan dia.

Adegan terakhir di dekat LAX tidak terasa seperti kemenangan siapa pun. Lampu-lampu bandara, pesawat, tanah kosong, kabut tipis, dan dua sosok yang bergerak menjauh dari dunia yang baru saja mereka hancurkan. Los Angeles mendadak terasa sangat luas dan sangat sepi. AFI menggambarkan penggunaan wilayah LAX dalam bagian penutup sebagai bagian dari ekspresi visual film tersebut.

Heat sering disebut film heist, film polisi, film Michael Mann, film Al Pacino versus Robert De Niro. Semua benar, tetapi masing-masing hanya menangkap permukaannya. Yang membuat film ini sulit dilupakan adalah betapa seriusnya Mann memperlakukan pekerjaan yang seharusnya cuma menjadi mesin penggerak plot. Ia memperlihatkan orang-orang yang terlalu pandai melakukan pekerjaannya sampai pekerjaan itu mulai memakan kehidupan mereka.

Dan ketika film selesai, yang paling terngiang bukan suara tembakan dari jalanan Los Angeles. Saya justru masih melihat dua cangkir kopi di meja Kate Mantilini, dua laki-laki yang untuk beberapa menit berhenti mengejar dan melarikan diri, seolah mereka sudah tahu persis bagaimana cerita itu akan berakhir... tetapi tetap duduk di sana sedikit lebih lama.


Related

Entertainment 8228180446547393841

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item