Stone Town: Dari Swahili, Freddie Mercury, sampai Pasar Budak

Stone Town: Dari Swahili, Freddie Mercury, sampai Pasar Budak
Ilustrasi milik BSM
Stone Town mudah sekali dijual kepada imajinasi orang luar. Pintu kayu berukir, gang sempit, masjid, laut di ujung jalan, aroma cengkih, bangunan karang yang menghitam oleh usia, pedagang yang menawarkan rempah-rempah. Tambahkan sejarah kesultanan Oman, perdagangan Samudra Hindia, jejak perbudakan, bahasa Swahili, dan nama Zanzibar sendiri yang sejak lama terdengar seperti nama tempat dari cerita petualangan. 

UNESCO menyebut Stone Town sebagai kota dagang Swahili yang mempertemukan unsur Afrika, Arab, India, dan Eropa selama lebih dari seribu tahun.

Persoalannya muncul ketika semua yang membuat kota itu menarik bagi wisatawan justru merupakan hal yang biasa bagi orang yang tinggal di sana. Seorang perempuan yang mengenakan hijab menuju pasar mungkin sedang membeli ikan untuk makan malam. Lelaki yang duduk di depan rumah mungkin sedang berbincang dengan tetangga. Anak-anak berlari melewati gang yang bagi turis tampak seperti lorong menuju masa lalu. Orang luar melihat “budaya Zanzibar”. Mereka sendiri sedang menjalani hari biasa.

Perbedaan kecil itu penting karena Stone Town memang sangat tua, tetapi kehidupan yang berlangsung di dalamnya tidak pernah berhenti menjadi kehidupan kontemporer. UNESCO masih menggambarkannya sebagai pusat komersial dan sosial-budaya Zanzibar, dengan bangunan yang tetap digunakan sebagai rumah dan ruang usaha. Masalahnya, semakin kuat sebuah tempat dipromosikan sebagai warisan, semakin mudah kehidupan sehari-hari di dalamnya berubah menjadi bagian dari pemandangan.

Ambil contoh sebuah baraza. Bentuknya sederhana: bangku atau panggung rendah di depan rumah atau ruang terbuka tempat orang duduk, berbicara, bertemu, beristirahat. Penelitian Naimeh Rezaei tentang kehidupan publik Stone Town menemukan bahwa baraza tetap berfungsi sebagai tempat bertukar informasi, bersosialisasi, berdiskusi, bahkan memiliki peran politik dan keagamaan. Bagi wisatawan yang melewatinya, benda itu mungkin hanya tampak seperti tempat duduk tua yang cocok untuk difoto. Bagi penduduk, orang-orang yang duduk di sana bukan instalasi budaya. Mereka tetangga.

Saya suka contoh baraza, karena ia memperlihatkan betapa anehnya pariwisata bekerja. Turis mencari sesuatu yang “lokal”, padahal kehidupan lokal biasanya tidak berusaha menjadi lokal. Ia tidak sedang mempertontonkan dirinya. Orang duduk karena ingin duduk. Orang berbicara karena ada yang ingin dibicarakan. Makanan dimasak karena keluarga perlu makan. Ketika semua itu kemudian dianggap autentik, sesuatu yang tadinya biasa kemudian memperoleh nilai baru hanya karena dilihat oleh orang asing.

Stone Town bahkan memiliki sejarah yang membuat pencarian terhadap “keunikan” itu semakin rumit. Kota itu tumbuh dari jaringan perdagangan Samudra Hindia yang menghubungkan pantai Afrika Timur dengan Arabia, India, dan wilayah lain. Pengaruh itu terlihat jelas pada bangunannya: rumah Swahili dengan halaman dalam, rumah besar bergaya Omani, toko-toko dengan pengaruh pedagang India, gereja dan bangunan bergaya Eropa. Pintu Zanzibar yang terkenal itu juga bukan hasil dari satu kebudayaan yang berdiri sendirian. Kota tersebut terbentuk dari perpindahan manusia, perdagangan, migrasi, perkawinan, agama, kekuasaan, dan kekerasan selama berabad-abad.

Karena itu, menyebut Stone Town sebagai “Afrika” juga terasa terlalu sederhana. Afrika yang dibayangkan wisatawan dari jauh sering kali berupa kategori yang sangat kasar: gurun, safari, suku, warna-warna cerah, kemiskinan, matahari, dan kehidupan tradisional. Stone Town mengacaukan paket itu. Islam menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakatnya. Bahasa Swahili menghubungkan kota itu dengan dunia pesisir Afrika Timur. Arsitekturnya menyimpan pengaruh Oman dan India. 

Sejarahnya terhubung dengan perdagangan global. Bahkan penelitian arkeologi terbaru mengenai Zanzibar menunjukkan bahwa masyarakat Swahili sejak masa lampau sudah merupakan masyarakat yang terhubung dengan migrasi, perdagangan dan pertemuan berbagai kelompok, termasuk orang-orang yang datang dari pedalaman Afrika.

Eksotisme ternyata sering lahir dari ketidaktahuan terhadap kerumitan.

Seorang wisatawan mungkin berjalan dari Forodhani Gardens menuju Darajani Market sambil mencium cengkih atau melihat perempuan dengan pakaian yang dianggap “tradisional”. Semua itu mudah dimasukkan ke dalam cerita tentang Zanzibar. Padahal orang yang sama mungkin pulang ke rumah, membuka telepon, mengeluhkan harga sesuatu, bertengkar dengan saudara, mengirim uang, mengurus pekerjaan, atau menonton pertandingan sepak bola. Tidak ada yang eksotis dalam hal itu. Justru karena sangat biasa, kehidupan tersebut jarang masuk ke dalam brosur.

Freddie Mercury membuat persoalan itu semakin lucu. Farrokh Bulsara lahir di Zanzibar pada 5 September 1946 dan kemudian menjadi penyanyi Queen yang dikenal dunia sebagai Freddie Mercury. Situs resmi Freddie Mercury menyebut kelahirannya di The Hospital Government Zanzibar.

Kini nama Freddie menjadi bagian dari cara sebagian pengunjung membaca Stone Town. Rumah yang dikaitkan dengan masa kecilnya, Queen, musik rock, dan foto-foto, menjadi lapisan lain dalam kota yang sudah penuh lapisan sejarah.

Seorang anak yang tumbuh di Zanzibar dapat melihat sebuah bangunan sebagai bangunan. Wisatawan dapat melihatnya sebagai “tempat kelahiran Freddie Mercury”. Benda yang sama tidak pernah benar-benar sama setelah seseorang memberinya cerita.

Masalah yang lebih besar muncul ketika cerita wisatawan mulai mempengaruhi ruang hidup penduduk. Sejak 1990-an, perkembangan pariwisata menjadi salah satu tekanan penting terhadap Stone Town. UNESCO mencatat perubahan fungsi bangunan, persoalan lalu lintas, mahalnya akomodasi, serta kebutuhan untuk menyeimbangkan konservasi dengan perkembangan pariwisata. 

Penelitian tentang konservasi juga menunjukkan bahwa keterlibatan ekonomi dalam pariwisata mempengaruhi sikap penduduk terhadap pelestarian bangunan bersejarah. Dalam satu studi terhadap 208 rumah tangga di Stone Town, pekerjaan yang berkaitan dengan pariwisata terbukti menjadi faktor yang mempengaruhi hubungan antara sikap penduduk dan niat mereka untuk ikut melestarikan warisan bangunan.

Jadi penduduk tidak berdiri di luar industri wisata sambil menonton turis mengambil alih kota. Mereka bekerja di dalamnya, memperoleh penghasilan darinya, bernegosiasi dengannya, bahkan ikut mempertahankan bangunan yang membuat wisatawan datang. 

Seorang pemilik toko mungkin membutuhkan turis sekaligus merasa terganggu oleh rombongan turis. Seorang pemandu mungkin menjelaskan sejarah kota dengan sangat baik sambil tahu persis cerita mana yang paling mudah dijual. Seorang pemilik rumah mungkin menyukai nilai bangunannya yang meningkat karena kawasan heritage, sekaligus menghadapi kenyataan bahwa tempat tinggal di pusat kota jadi semakin mahal.

Penelitian tentang kehidupan sosial Stone Town juga menunjukkan bahwa interaksi antara penduduk dan wisatawan tidak sesederhana hubungan “lokal melayani orang asing”. Studi tentang para tout atau pemandu informal, misalnya, memperlihatkan bahwa mereka memahami diri mereka sebagai orang yang memang memiliki hak berada di ruang publik Stone Town dan menawarkan jasa kepada orang asing. Hubungan itu lahir dari status lokal, kebutuhan ekonomi, jaringan sosial, dan kesempatan yang diberikan pariwisata sekaligus.

Kota itu pernah menjadi pusat perdagangan budak besar di Afrika Timur. Christ Church Anglican Cathedral berdiri di lokasi pasar budak terakhir yang beroperasi di Zanzibar, sementara bekas kediaman pedagang budak Tippu Tip masih menjadi bagian dari lanskap bersejarah Stone Town. UNESCO menjadikan sejarah perdagangan budak sebagai salah satu alasan penting bagi nilai universal kawasan itu.

Seorang wisatawan dapat membeli cengkih, memotret pintu ukiran, makan di Forodhani, melihat laut, mengunjungi bekas pasar budak, kemudian kembali ke hotel dengan kesan telah “mengalami Zanzibar”. Penduduk yang tinggal di sana tidak memiliki kemewahan untuk memilih lapisan mana dari sejarah itu yang ingin mereka masuki hari ini.

Mungkin karena itu Stone Town terasa paling jujur ketika sesuatu yang sangat biasa tiba-tiba terlihat eksotis: orang duduk di baraza, sandal ditinggalkan di depan pintu masjid, pedagang menyusun barang, suara percakapan keluar dari rumah yang pintunya terbuka. Wisatawan mengangkat kamera. Orang yang sedang duduk meneruskan percakapannya, bahkan mungkin tidak melihat ke arah kamera.

Di ujung gang, seorang anak berlari membawa bola melewati dua turis yang sedang memotret pintu kayu. Salah satu turis bergeser sedikit agar pintunya tetap masuk seluruhnya ke dalam bingkai. Anak itu tidak berhenti.


Related

Geografi 4292235792240325311

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item