Dave Winer, Google Reader, dan Masalah Arsitektur Internet

Dave Winer, Google Reader, dan Masalah Arsitektur Internet
Ilustrasi milik BSM
Dave Winer tidak pernah benar-benar nyaman ketika sesuatu yang terbuka mulai terlalu bergantung pada satu perusahaan. Karakternya sudah terlihat sejak masa ketika web masih terasa seperti kumpulan halaman pribadi yang saling berbicara melalui RSS, bukan sekumpulan layanan besar yang meminta pengguna masuk melalui satu pintu. 

Winer adalah salah satu tokoh penting dalam perkembangan RSS dan weblog, dan ia terbiasa memikirkan web dari sudut yang agak berbeda dari perusahaan teknologi: siapa yang mengendalikan data, siapa yang mengendalikan jalur distribusi, dan apa yang terjadi ketika sebuah teknologi yang semula terbuka mulai berada di bawah kepemilikan perusahaan yang sangat besar.

Google, cepat atau lambat, akan masuk ke semua pertanyaan itu.

Pada 2005, Google meluncurkan Google Reader sebagai eksperimen di Google Labs. Produk tersebut diumumkan pada konferensi Web 2.0 di San Francisco pada 7 Oktober, dibuat untuk membantu orang mengikuti semakin banyak informasi yang diterbitkan melalui feed. Google sendiri menjelaskan Reader sebagai cara untuk mengumpulkan blog, situs berita, dan konten lain di satu tempat. Pada masa awalnya, Reader bahkan belum dianggap sebagai produk utama; ia masih membawa label Labs.

Winer seharusnya menjadi pengguna ideal. RSS adalah wilayah yang ia kenal jauh sebelum Google ikut bermain. Feed adalah cara sederhana untuk mengatakan kepada pembaca, “Saya menerbitkan sesuatu; kalau kamu mau, ambillah salinannya melalui jalur yang terbuka.” Tidak perlu menunggu mesin pencari menemukan tulisan. Tidak perlu berharap sebuah algoritma menilai tulisan layak tampil. Pembaca berlangganan langsung.

Google Reader mengubah pengalaman tersebut menjadi layanan milik Google. Secara teknis, itu sangat nyaman. Secara filosofis, Winer melihat persoalan yang lebih mengganggu.

Pada 2007, ketika Google mengakuisisi FeedBurner, Winer langsung mempermasalahkannya. FeedBurner bukan perusahaan kecil yang tidak relevan bagi dunia RSS. Layanannya digunakan penerbit untuk mengelola dan mendistribusikan feed, sekaligus menyediakan statistik mengenai siapa yang berlangganan dan bagaimana feed tersebut dikonsumsi. Akuisisi oleh Google berarti sebuah bagian penting dari infrastruktur distribusi konten web masuk ke perusahaan yang juga mengoperasikan Google Reader.

Winer kemudian menulis kekhawatiran yang sangat spesifik: bagaimana jika Google memiliki FeedBurner dan pada suatu hari mengubah format feed tanpa meminta izin? Bagaimana jika format baru bekerja paling baik dengan Google Reader, sementara pembaca atau perangkat lunak lain harus mengejar perubahan tersebut? Kekhawatirannya terdengar paranoid, sampai Wired pada Juli 2007 mengutipnya dalam artikel berjudul “Google F.O.G.” dan mengakui bahwa sebagian ketakutannya memang memiliki dasar.

Yang membuat komentar Winer terasa khas adalah ia tidak perlu menuduh Google sedang merencanakan sesuatu. Ia cukup menunjuk struktur kepemilikannya.

Google memiliki mesin pencari. Google memiliki Blogger. Google memiliki Reader. Google baru membeli FeedBurner. Satu perusahaan semakin dekat dengan seluruh jalur yang dilalui seseorang dari penerbitan sampai pembacaan.

Bagi pengguna biasa, itu hanya berarti lebih banyak produk gratis. Bagi orang yang memikirkan arsitektur web, susunannya mulai terasa sempit.

Winer memang punya sejarah panjang dengan gagasan bahwa web seharusnya dapat dibangun dari komponen yang saling terhubung tanpa satu perusahaan menjadi pusatnya. RSS sangat cocok dengan pandangan tersebut. Feed dapat dibaca oleh banyak aplikasi. Penerbit tidak perlu menyerahkan hubungan dengan pembacanya kepada sebuah platform tertentu. Pengguna memilih perangkat lunak pembaca sendiri.

Google Reader menawarkan pengalaman yang jauh lebih halus. Ia bisa mencari feed, menyusun langganan, menghitung item yang belum dibaca, menyimpan semuanya di server, kemudian menambahkan fitur sosial. Pada 2007, Google Reader bahkan sudah mendukung delapan juta feed, menurut data yang diberitakan TechCrunch, dengan backend yang menyimpan sekitar 10 terabyte data.

Angka itu mengesankan. Juga sedikit menyeramkan jika dipandang dari perspektif Winer.

Bayangkan jumlah tulisan yang lewat di sana. Blog pribadi, situs teknologi, koran, majalah, komik, podcast, video. Semua diterjemahkan menjadi feed dan masuk ke sistem yang tidak dimiliki oleh para penerbit tersebut.

Google tidak perlu mengambil alih setiap situs. Cukup dengan menjadi pembaca paling populer.

Winer kemudian menjadi salah satu orang yang justru tidak menyukai Google Reader. Ketika Google mengumumkan penghentian layanan tersebut pada 2013, internet dipenuhi keluhan. Pengguna veteran merasa kehilangan tempat kerja digital mereka. Petisi muncul. Pengembang mulai membuat pengganti.

Winer tidak ikut berkabung.

Ia mengatakan bahwa dirinya tidak akan merindukan Google Reader, karena ia memang tidak pernah nyaman menggunakannya. Ia tidak percaya bahwa kepentingan sebuah perusahaan besar seperti Google akan selalu cukup dekat dengan kepentingannya sendiri sehingga layak dijadikan tempat untuk mengandalkan seluruh berita yang ingin ia baca. Ia juga tidak menyukai format kotak masuk yang mengubah berita menjadi tumpukan angka “belum dibaca”.

Komentarnya membuat banyak pengguna Reader marah.

Reaksi tersebut masuk akal. Bagi mereka, Reader bukan eksperimen perusahaan teknologi. Ia adalah tempat kerja. Mereka membuka laptop, melihat angka item belum dibaca, menekan tombol, menggulir ratusan judul, menandai beberapa untuk nanti, dan menutupnya setelah pekerjaan selesai. Ketika Google mengatakan produk itu akan dihentikan, yang hilang bukan hanya aplikasi. Rutinitas ikut hilang.

Winer melihatnya dari sisi lain. Sebuah layanan yang sangat berguna tetap berada di bawah keputusan perusahaan yang tidak memiliki kewajiban untuk mempertahankannya.

Google mengatakan pada 2013 bahwa Reader dihentikan karena penggunaannya menurun sebagai bagian dari program “Spring Cleaning”. Winer kemudian berpendapat bahwa kematian Reader tidak membuktikan RSS gagal. Ia justru melihatnya sebagai bukti bahwa orang terlalu mudah menggantungkan infrastruktur penting pada produk gratis milik perusahaan besar.

Pendapat itu terdengar menjengkelkan ketika seseorang sedang kehilangan aplikasi kesayangannya. Beberapa tahun kemudian, ia terlihat jauh lebih masuk akal.

Google Reader tidak gagal karena RSS tidak berguna. RSS tetap ada. Aplikasi pembaca feed tetap muncul. Feedly, Inoreader, NetNewsWire, dan berbagai perangkat lunak lain, mengisi sebagian ruang yang ditinggalkan Reader. Yang mati adalah produk Google yang kebetulan menjadi salah satu cara paling nyaman untuk mengakses teknologi terbuka tersebut. Perbedaan itu sangat penting bagi Winer.

Google bisa membuat Reader sangat bagus. Google bisa membuatnya populer. Google bisa menyimpan jutaan feed dan mengolah miliaran item. Google juga bisa mematikannya dengan satu pengumuman. Tidak ada yang perlu rusak secara teknis.

Pada 2007, Winer melihat persoalan itu bahkan sebelum Google Reader menjadi pusat perhatian. Ia melihat FeedBurner, Google Reader, Blogger, dan pencarian Google mulai membentuk satu ekosistem yang sangat kuat. Wired menyebut kekhawatirannya sebagai “Google paranoia”. Kata itu memang mudah dipakai karena terdengar lucu. Namun paranoia menjadi tuduhan yang terlalu nyaman ketika yang sedang dibicarakan sebenarnya adalah konsentrasi kekuasaan.

Winer tentu tidak selalu benar. Kekhawatiran tentang Google mengubah feed menjadi format yang hanya menguntungkan Reader tidak terbukti sebagai skenario besar yang kemudian terjadi. Google tidak pernah membutuhkan konspirasi semacam itu untuk memperoleh pengaruh besar. Pengguna sendiri yang memilih layanan yang lebih nyaman. 

Itulah bagian yang agak mengganggu. Dominasi teknologi jarang membutuhkan paksaan langsung. Produk yang nyaman sudah cukup.

Orang memakai Blogger karena mudah. Menggunakan Reader karena cepat. Mengandalkan Google Search karena hasilnya bagus. Menghubungkan FeedBurner karena statistiknya berguna. Satu pilihan terasa kecil. Setelah jutaan orang membuat pilihan yang sama, struktur web berubah.

Winer menghabiskan bertahun-tahun berteriak tentang struktur tersebut, sementara sebagian besar pengguna sibuk membaca artikel berikutnya.

Ketika Google Reader ditutup, orang-orang baru menyadari bahwa mereka telah memberikan sesuatu kepada sebuah perusahaan yang tidak pernah mereka sadari sedang mereka berikan: kebiasaan.

Pada 1 Juli 2013, Google Reader berhenti bekerja. Feed-feed yang selama bertahun-tahun mengalir ke dalam daftar langganan pengguna berhenti muncul. Kotak yang biasanya penuh judul menjadi kosong. Orang-orang membuka layanan lain dan mulai mengimpor OPML mereka.

Winer tetap memiliki RSS. Google yang tidak lagi memiliki Reader ternyata tidak memiliki RSS juga. Ia hanya pernah memiliki salah satu tempat paling nyaman untuk membacanya.


Related

Internet 7833855403739575073

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item