Ulil Abshar Abdalla, Pemberontak Intelektual yang Kini Lebih Santun
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/ulil-abshar-abdalla-pemberontak.html
![]() |
| Ilustrasi/suara.com |
Pernah ada masa ketika nama Ulil Abshar Abdalla cukup untuk membuat sebuah forum diskusi memanas sebelum acara dimulai. Belum ada media sosial seperti sekarang. Belum ada perang tagar. Belum ada algoritma yang mengubah setiap perbedaan pendapat jadi tontonan massal. Tetapi satu artikel di harian Kompas pada November 2002 sanggup memicu gelombang kemarahan yang menjalar dari ruang redaksi surat kabar ke pesantren, kampus, masjid, kantor organisasi Islam, hingga meja-meja warung kopi.
Judulnya sederhana: “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”.
Bagi sebagian orang, itu hanya artikel opini. Bagi sebagian lain, itu deklarasi perang.
Gus Ulil saat itu bukan figur pinggiran. Ia lahir dari lingkungan Nahdlatul Ulama, belajar di Pesantren Mansajul Ulum Pati, lalu di Pesantren Al-Anwar Sarang yang diasuh KH Maimoen Zubair. Ia tumbuh dari tradisi kitab kuning, bukan dari ruang seminar universitas Barat. Justru karena itulah tulisannya terasa mengganggu. Kritik terhadap Islam dari orientalis asing sudah biasa. Kritik dari orang yang hafal struktur tradisi dari dalam jauh lebih sulit diabaikan.
Artikel di Kompas itu sebenarnya tidak terlalu panjang. Beberapa kalimatnya kini terdengar hampir biasa di telinga generasi muda perkotaan. Ia menulis bahwa hukum Islam perlu ditafsirkan ulang sesuai konteks zaman. Ia mempertanyakan pembacaan literal terhadap teks. Ia berbicara tentang pluralisme agama. Ia menganggap pintu ijtihad tidak pernah tertutup.
Tahun 2002 bukan tahun 2026. Indonesia baru beberapa tahun keluar dari Orde Baru. Reformasi masih terasa seperti ledakan yang belum selesai. Kebebasan berbicara sedang mekar ke segala arah. Organisasi-organisasi Islam sedang mencari bentuk baru. Kelompok konservatif mulai tumbuh lebih percaya diri setelah puluhan tahun ditekan negara. Di tengah suasana seperti itu, tulisan Gus Ulil terdengar seperti lemparan batu ke sarang tawon.
Reaksi yang muncul tidak main-main.
Majelis Mujahidin Indonesia mengecamnya. Forum Ulama Umat Indonesia mengeluarkan fatwa yang menyatakan pemikirannya sesat. Beberapa tokoh menyerukan hukuman mati. Nama Gus Ulil muncul hampir setiap minggu dalam polemik surat kabar. Debat terbuka berlangsung berbulan-bulan. Orang-orang seperti Ahmad Sahal, Luthfi Assyaukanie, Budhy Munawar-Rachman, Adian Husaini, Goenawan Mohamad, Gus Dur, hingga Gus Mus (sang mertua) saling berbalas argumen dalam artikel, seminar, dan buku.
Jaringan Islam Liberal (JIL) yang bermarkas di Utan Kayu, Jakarta Timur, berubah menjadi simbol pertarungan intelektual paling keras dalam sejarah Islam Indonesia pasca-Reformasi. Anak-anak muda yang datang ke Komunitas Utan Kayu waktu itu sering menggambarkan suasananya seperti laboratorium ide. Diskusi berlangsung hingga malam. Asap rokok menebal di ruangan. Buku-buku terjemahan karya pemikir Mesir, Iran, Turki, Prancis, dan Amerika, bertumpuk di meja. Nama-nama seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Mohammed Arkoun, dan Fazlur Rahman, beredar dalam percakapan sehari-hari.
Banyak orang sekarang lupa betapa radikalnya posisi Gus Ulil saat itu. Radikal bukan dalam arti kekerasan. Radikal karena ia menyerang fondasi cara berpikir yang selama puluhan tahun dianggap mapan. Ia tidak sekadar memperdebatkan cabang hukum. Ia menyentuh cara memahami wahyu, otoritas ulama, hubungan agama dan modernitas. Persis wilayah yang biasanya membuat orang gugup.
Ironisnya, mereka yang dulu paling marah pada Gus Ulil kini sering terlihat lebih bersemangat daripada dirinya sendiri dalam mempertahankan posisi yang dulu ia usung.
Perubahan itu tidak terjadi mendadak. Sekitar satu dekade terakhir, terutama setelah kedekatannya dengan lingkaran Nahdlatul Ulama yang lebih mapan dan keterlibatannya dalam berbagai struktur keagamaan resmi, nada Gus Ulil berubah. Kritiknya terhadap tradisi Islam tidak lagi setajam era JIL. Energi intelektual yang dulu terasa seperti palu godam perlahan bergeser menjadi bahasa penengah, bahasa stabilisasi, bahasa institusional.
Orang bisa melihatnya dalam ceramah-ceramahnya di kanal YouTube, dalam unggahan media sosial, dalam berbagai forum NU. Sosok yang dulu menikmati perdebatan panjang tentang hermeneutika Al-Qur'an kini lebih sering berbicara tentang moderasi, toleransi, dan kebijaksanaan tradisi.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Masalahnya bukan karena seseorang berubah. Masalahnya terletak pada hilangnya daya ganggu. Saya sering merasa yang hilang dari Gus Ulil sekarang bukan liberalismenya, tetapi keberaniannya untuk membuat kawan sendiri tidak nyaman.
Dulu ia mengganggu kelompok konservatif. Kini ia jarang mengganggu siapa pun. Padahal fungsi intelektual bukan membuat semua orang merasa tenang. Intelektual bekerja seperti serpihan pasir dalam mesin. Sedikit mengganggu putaran yang terlalu mulus. Sedikit memaksa orang memeriksa kembali asumsi yang dianggap pasti.
Banyak tokoh mengalami nasib serupa ketika bergerak dari pinggiran menuju pusat. Ketika masih berada di luar lingkaran kekuasaan, mereka memiliki kebebasan untuk menyerang. Ketika sudah berada di dalam institusi, muncul tanggung jawab menjaga stabilitas. Bahasa jadi lebih hati-hati. Risiko jadi lebih besar. Kritik mulai dipilih-pilih.
Nasib itu tidak hanya menimpa Gus Ulil. Kita pernah melihatnya pada aktivis yang berubah menjadi menteri. Pada jurnalis yang berubah menjadi pejabat. Pada akademisi yang berubah menjadi birokrat. Struktur sering kali lebih kuat daripada karakter seseorang.
Saya tidak yakin perubahan Gus Ulil semata-mata soal usia. Banyak pemikir tetap liar sampai tua. Noam Chomsky masih mengkritik kekuasaan hingga usia sangat lanjut. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bahkan ketika sudah menjadi presiden tetap gemar melontarkan pernyataan yang membuat sekutunya mengelus dada.
Perubahan Gus Ulil tampaknya lebih terkait posisi sosialnya. Dulu ia berdiri di luar benteng. Sekarang ia ikut menjaga benteng.
Saya sering menyimak ceramahnya, sampai sekarang. Tidak ada yang salah secara substansi. Argumennya rapi. Referensinya luas. Pengetahuannya tetap mengesankan. Tetapi muncul perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seperti mendengar gitaris rock yang dulu terkenal karena solo liarnya, kini memainkan lagu pengiring resepsi pernikahan. Tekniknya masih ada. Jarinya masih lincah. Nada-nadanya tepat. Tapi sesuatu yang dulu membuat orang menoleh kini sudah tidak terdengar.
Sebagian pendukungnya mungkin menyebut itu sebagai kematangan. Sebagian pengkritiknya menyebutnya kompromi. Saya lebih tertarik melihatnya sebagai gejala yang lebih besar daripada satu orang bernama Ulil Abshar Abdalla.
Indonesia setelah Reformasi menghasilkan banyak pemberontak intelektual. Sebagian besar tidak tetap menjadi pemberontak. Banyak yang akhirnya menemukan tempat nyaman di dalam sistem yang dulu mereka kritik. Sebagian masuk partai politik. Sebagian masuk lembaga negara. Sebagian masuk organisasi besar. Sebagian menjadi figur publik yang harus menjaga terlalu banyak hubungan sekaligus.
Daya kritis sering mati bukan karena kalah berdebat. Ia mati karena menemukan rumah.
Nama Ulil Abshar Abdalla tetap penting dalam sejarah intelektual Islam Indonesia. Polemik di Kompas tahun 2002 masih akan dibaca oleh mahasiswa, peneliti, dan siapa saja yang ingin memahami pertarungan gagasan pada awal Reformasi. JIL tetap menjadi salah satu eksperimen intelektual paling berani yang pernah muncul dalam sejarah Islam Indonesia modern.
Tetapi ketika orang mengenang Gus Ulil hari ini, mereka mungkin lebih sering mengenang sosok yang dulu daripada sosok yang sekarang. Seorang pria berkacamata yang duduk di Utan Kayu dua puluh tahun lalu, memegang teks-teks klasik dan melemparkan pertanyaan yang membuat banyak orang marah.
Nama yang sama masih ada. Suaranya masih terdengar. Ruangannya sudah berbeda. Entah kenapa, itu membuat saya merasa sangat kehilangan.
Catatan terkait: Goenawan Mohamad dan Gema dari Pertanyaan Tak Selesai


